Dilaporkan bahwa sedikitnya 16 orang tewas dalam bentrokan tersebut, terdiri dari 14 warga sipil dan satu personel militer. Meskipun deru artileri, roket, dan kendaraan tempur masih terdengar memanaskan suasana di garis perbatasan, para analis meyakini bahwa konflik ini tidak akan meluas ke luar wilayah perbatasan.
Sebastian Strangio, jurnalis dan pengamat yang pernah tinggal di Kamboja, menyatakan bahwa kedua negara masih menunjukkan kemampuan untuk menahan diri guna mencegah terjadinya perang skala penuh. Namun demikian, Strangio juga mengakui bahwa situasi antara Thailand dan Kamboja sangat rapuh dan tetap berpotensi berkembang menjadi konflik bersenjata yang lebih besar jika tidak segera diredam.
“Saya rasa respons Thailand sejauh ini masih cukup terkendali, mengingat roket-roket dari Kamboja telah menghantam target sipil di wilayah Thailand. Menurut saya, militer Thailand mengklaim bahwa mereka membatasi serangan hanya pada target-target militer saja. Namun, jika Thailand memutuskan untuk sepenuhnya “melepaskan anjing-anjing perang”, saya kira mereka dapat menyebabkan kerusakan besar di Kamboja, termasuk berpotensi mengguncang posisi politik pemerintah Kamboja. Namun untuk saat ini, tampaknya mereka masih menahan diri. Tetapi seperti yang saya katakan, jika perang ini terus meningkat, saya percaya Thailand memiliki keunggulan dalam eskalasi konflik dan, bisa dibilang, hampir pasti akan menang, jika kita bisa menggunakan istilah “menang dalam perang,” jelas Stranggio, melansir dari
Baca Juga:Jarang Diketahui, Ini Rahasia Kesuksesan Honda hingga Berhasil Kuasai Pasar Otomotif Indonesia10 Aplikasi Android Multifungsi dan Canggih 2025, Cocok untuk Semua Kebutuhan
Dua candi kuno, warisan peradaban masa lalu, kini berubah menjadi medan sengketa yang membara. Thailand dan Kamboja tidak lagi sekadar berdebat soal sejarah, tetapi saling melancarkan serangan di darat dan udara. Warisan budaya retak di tengah gejolak amarah, sementara diplomasi tertinggal jauh di belakang deru senjata.
Ketika situs suci dijadikan sasaran dan warga sipil terpaksa mengungsi, kita diingatkan bahwa dalam konflik, yang menjadi korban bukan hanya tentara. Sejarah, kemanusiaan, dan akal sehat pun ikut hancur di medan perang.
