KONTEN LIPSUS
JABAR EKSPRES – Kebijakan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang menetapkan jumlah rombongan belajar (rombel) hingga 50 siswa per kelas di sekolah negeri, memicu gelombang kekhawatiran di kalangan orang tua siswa di Kota Bandung. Meski bertujuan mulia untuk memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, kebijakan ini dinilai mengorbankan kualitas pembelajaran dan pengalaman belajar siswa, memicu keresahan yang kian memuncak.
Komara, orang tua siswa SMA di Bandung, mengungkapkan kecemasan mendalam atas dampak kebijakan ini. “Dengan 50 siswa dalam satu kelas, saya khawatir guru kewalahan memberikan perhatian individual. Kualitas pendidikan anak saya bisa merosot tajam,” ujar Komara kepada Jabar Ekspres, Kamis (17/7).
Ia mengakui intensi positif kebijakan ini untuk membuka peluang pendidikan bagi keluarga kurang mampu, namun menegaskan bahwa jumlah siswa yang berlebihan berisiko menggerus mutu pendidikan. “Akses pendidikan memang penting, tapi kalau kualitasnya dikorbankan, apa gunanya?” tegasnya.
Baca Juga:Ketua DPRD Sastra Winara Minta Kapolres Baru Atasi Macet PuncakDiresmikan Hari Ini, Menkop: Kopdes Merah Putih Siap Beroperasi!
Kekhawatiran ini diperparah oleh keraguan akan kemampuan guru mengelola kelas dengan jumlah siswa jauh melebihi kapasitas ideal, yang menurut standar pendidikan seharusnya berkisar 20-30 siswa per kelas. Dengan 50 siswa, interaksi guru-siswa terancam minim, potensi gangguan di kelas meningkat, dan proses pembelajaran berisiko menjadi kurang efektif. “Guru bukan mesin. Mereka manusia yang punya batas. Mengelola kelas sebesar itu jelas akan menguras tenaga dan fokus mereka,” ungkap Komara.
Menanggapi polemik ini, orang tua mendesak Dinas Pendidikan Kota Bandung dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk mengevaluasi ulang kebijakan rombel 50 siswa. Mereka meminta menggelar dialog terbuka dengan melibatkan orang tua, guru, dan pemangku kepentingan lainnya guna merumuskan solusi yang seimbang. “Kami ingin kebijakan yang tidak hanya membuka akses, tapi juga menjamin kualitas pendidikan. Libatkan kami, dengar suara guru dan orang tua,” harap Komara.
Senada, Nia, orang tua siswa SMP yang anaknya akan segera melanjutkan ke jenjang SMA, menyuarakan kegelisahan serupa. “Saya cemas anak saya jadi sulit fokus di kelas yang penuh sesak. Dengan jumlah siswa sebanyak itu, bagaimana guru bisa mengajar efektif?” keluhnya.
