– Ke bank, lewat bunga utang
– Ke perusahaan, lewat produk gaya hidup
– Ke negara, lewat pajak
– Ke merek global, lewat tren yang membuat kita merasa harus membeli
– Yang lebih parah, kita merasa semua itu adalah hal yang wajar.
Mengapa? Karena sistemnya memang dibangun agar kita percaya bahwa:
– Jika kamu miskin, kamu harus bekerja lebih keras
– Jika kamu kelas menengah, kamu harus menjaga citra agar terlihat sukses
Baca Juga:7 Jenis Konfigurasi Mesin Sepeda Motor dan Karakteristiknya, Bukan Hanya 1 SilinderJangan Anggap Remeh! Ini Dampak Fatal Jika Telat Ganti Oli Mesin
– Jika kamu kaya, barulah kamu bisa benar-benar bebas memilih hidupmu sendiri
Artinya, nilai sejati seseorang bukan sekadar angka di rekening, tapi seberapa bebas ia dalam menentukan jalan hidupnya.
Namun bagaimana bisa bebas jika kita dikejar cicilan, FOMO, dan standar hidup orang lain?
Yuval Noah Harari pernah berkata:
“Homo sapiens rule the world because they are the only animal that can cooperate flexibly in large numbers.”
Masalahnya, hari ini kita “dipaksa bekerja sama” dalam sistem konsumsi. Kita pikir kita bebas memilih, padahal sebenarnya kita sedang diarahkan.
Contohnya sederhana:
Kamu sedang scrolling TikTok, lalu muncul video seseorang memamerkan iPhone terbaru. Padahal, ponselmu masih berfungsi dengan baik, tapi kamu mulai merasa ketinggalan zaman.
Atau kamu melihat teman-temanmu liburan ke Jepang. Sebenarnya kamu tidak begitu ingin ke sana, tapi karena semua orang memamerkannya, kamu jadi berpikir, “Aku juga harus ke Jepang.”
Inilah cara kerja jebakan kelas menengah.
Baca Juga:Top 10 Aplikasi iPhone 2025 yang Bikin Hidup Lebih Praktis dan Estetik10 Game Car Racing Android Offline Terbaik 2025, Grafisnya Keren Gila!
Makanya, banyak ekonom menyebut kelas menengah sebagai kelompok paling stabil untuk terus “diperas.” Kita cukup kaya untuk menjadi konsumen, tapi tidak cukup kaya untuk lepas dari sistem.
Kami tidak sedang menyuruhmu berhenti bekerja lalu pergi ke gunung dan hidup jadi petapa.
Hidup di zaman sekarang tetap butuh uang. Tapi Kami ingin kamu mengerti kerangka berpikirnya.
Bayangkan hidupmu seperti game RPG.
Kamu memulai permainan sebagai “hero kelas menengah.” Statistikmu cukup bagus: punya penghasilan, keterampilan, dan sedikit tabungan. Tapi setiap kali naik level, tantangannya juga meningkat.
Musuh-musuhmu bernama:
- Pajak
- Cicilan rumah
- Tuntutan gaya hidup
- Inflasi
- Dan semuanya terus menguras “HP” alias energi dan finansialmu.
