SUMEDANG – Warga Desa Padasuka, Sumedang, Jawa Barat, antusias mengikuti workshop pengelolaan sampah organik dengan sistem banana circle pada Sabtu (19/7). Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat oleh tim dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Komunitas Seni Tani, yang bertujuan mempromosikan pertanian berkelanjutan berbasis rumah tangga sekaligus mengatasi limbah organik secara ramah lingkungan.
Program ini menjawab dua tantangan utama di desa: keterbatasan lahan untuk bercocok tanam dan menumpuknya sampah organik rumah tangga. Sistem banana circle—metode sederhana menanam pisang secara melingkar di sekitar lubang kompos—menjadi solusi efektif.
Sampah organik diurai di lubang tersebut, menjadi pupuk alami bagi tanaman pisang, menciptakan siklus produktif dan ramah lingkungan. Workshop dibuka oleh Dr. Deni Suwardhi, S.T., M.T., dosen Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB sekaligus Ketua Tim Pengabdian Masyarakat. “Pekarangan rumah bukan sekadar ruang kosong, tapi potensi besar untuk menghasilkan pangan dan menjaga lingkungan,” ujarnya.
Baca Juga:Matikan Sekolah Swasta, Persatuan Guru NU Jabar Kecam Kebijakan 50 Siswa per RombelKomunitas Ojek Online Ini Dukung Skema Komisi Ojol 20 Persen: Order Ramai, Hidup Tenang
Dukungan juga disampaikan Dadang Kusmawan, Kasi Pemerintahan Desa Padasuka, yang berharap sistem ini diadopsi secara luas. Sesi materi dipimpin Dr. Karlia Meitha, S.Si., M.Si., dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB, bersama Ristag Hamida Hanisa, S.Si., M.Si.
Karlia menekankan pentingnya kesehatan tanah untuk pertanian berkelanjutan dan dampak buruk sampah organik yang tidak dikelola. “Keindahan alam Padasuka harus dijaga. Banana circle adalah cara sederhana untuk menjaga lingkungan tetap bersih dan lestari,” katanya.
Raden Galih Raditya dari Komunitas Seni Tani memandu sesi praktik, mulai dari penggalian lubang kompos, pemilahan sampah, hingga penanaman pisang. Peserta aktif berdiskusi, menanyakan soal pupuk kimia, penyakit tanaman, dan pengelolaan lubang kompos.
Dedi Junaedi, warga setempat, antusias. “Sampah dapur yang biasa saya buang kini bisa jadi pupuk untuk pisang. Ini ilmu baru yang berguna,” kata Dedi.
Program ini tak berhenti di workshop. ITB dan Seni Tani akan mendampingi warga yang menerapkan banana circle di pekarangan mereka, lengkap dengan pemantauan rutin dan kompetisi untuk mendorong keberlanjutan.
