Ketika Cireundeu Santai saat Harga Beras Naik, Singkong Justru Jadi Pelopor Ketahanan Pangan Lokal

Warga Kampung Adat Cireundeu saat Menunjukkan Hasil Panen Rasi Singkong (Mong)
Warga Kampung Adat Cireundeu saat Menunjukkan Hasil Panen Rasi Singkong (Mong)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Di tengah derasnya arus modernisasi dan pola konsumsi instan, Kampung Adat Cireundeu di Kota Cimahi tetap teguh mempertahankan tradisi unik, mengonsumsi rasi, atau beras singkong.

Hingga kini, masih ada sekitar 60 kepala keluarga yang memilih bertahan dengan pola makan warisan leluhur tersebut.

“Ya mudah-mudahan akan terus bertahan dan tradisi ini terjaga,” ujar Abah Widi, Pangampih Kampung Adat Cireundeu, saat ditemui Selasa (15/7/2025).

Baca Juga:Jasad Pelajar Korban Tenggelam di Muara Cijolang Ditemukan di Hari KetigaInovasi ‘Jemput Asa’ Permudah Akses Layanan Pengadilan Agama Cibinong

Lebih dari sekadar pilihan pangan, rasi menjadi simbol kemandirian sekaligus perlawanan terhadap ketergantungan bangsa ini pada satu jenis bahan pokok: beras.

“Mungkin bisa diubah pola pikirnya, mindset-nya. Kita makan kan tidak harus beras, contohnya ya abah dan orang-orang Cireundeu. Puluhan tahun makan singkong, hidup dengan baik. Sehat, enggak ketergantungan sama beras. Singkong bisa jadi alternatif,” tambahnya.

Abah Widi menegaskan, keputusan warga Kampung Adat Cireundeu untuk tidak mengonsumsi nasi bukan karena kondisi ekonomi yang lemah.

Justru sebaliknya, mereka memiliki sawah, lahan, dan hasil bumi yang cukup. Tapi mereka memilih jalur berbeda, sesuai dengan tuntunan adat yang diwariskan leluhur.

“Cireundeu itu bukan miskin, bukan tidak bisa beli beras, bukan tidak punya sawah. Tapi di dalamnya, ada sebuah tuntunan bukan hanya untuk Cirendeu tapi untuk masyarakat yang ada di negara kita. Dari singkong, leluhur menyampaikan jangan sampai ketergantungan dengan namanya beras,” kata Abah Widi.

Tradisi ini pun erat kaitannya dengan hukum adat. Ada aturan tak tertulis yang berlaku bagi siapa saja yang lahir dan tinggal di dalam kampung adat tersebut.

“Kalau kita beralih sembarangan, ada yang namanya pamali. Kalau ingin beralih makan nasi ya harus ada ritual atau selamatan yang bertujuan menolak bala dan pamali agar makanan yang masuk ke tubuh kita tidak menjadi penyakit,” jelasnya.

Baca Juga:Operasi Patuh Lodaya di Bogor, Polisi Sasar Pengendara yang Tak Pakai HelmRespons Keluhan Warga, Bupati Bogor Janjikan Perbaikan Jalan Lingkar Pasar Cileungsi Bulan Depan

Koordinator Aliran Kepercayaan Perjalanan Provinsi Jawa Barat, Kiki Tarki, menyebut Cireundeu sebagai cerminan nyata dari ketahanan pangan ala Nusantara.

“Di Cireundeu itu mereka enggak makan nasi. Mereka makan berasingan atau singkong, hasil bumi. Mau harga beras naik setinggi langit pun, Cireundeu tetap tenang,” kata Kiki.

0 Komentar