Ketika Cireundeu Santai saat Harga Beras Naik, Singkong Justru Jadi Pelopor Ketahanan Pangan Lokal

Warga Kampung Adat Cireundeu saat Menunjukkan Hasil Panen Rasi Singkong (Mong)
Warga Kampung Adat Cireundeu saat Menunjukkan Hasil Panen Rasi Singkong (Mong)
0 Komentar

Menurutnya, Cireundeu adalah pelopor konsep pangan mandiri jauh sebelum jargon itu populer dalam kebijakan pemerintah.

“Singkong Cireundeu punya nilai berbeda. Bukan sekadar komoditas ekonomi, tapi simbol kemandirian, kearifan lokal, dan kebanggaan komunitas. Ada mi kong, mi singkong, dan hasil panen luar biasa,” imbuhnya.

Kini, Kiki dan komunitasnya tengah berupaya menjadikan Kampung Adat Cireundeu sebagai Pusat Konservasi Budaya Adat dan Lingkungan.

Baca Juga:Jasad Pelajar Korban Tenggelam di Muara Cijolang Ditemukan di Hari KetigaInovasi ‘Jemput Asa’ Permudah Akses Layanan Pengadilan Agama Cibinong

Mereka berencana membangun kawasan hutan bambu serta monumen peringatan tragedi TPA Leuwigajah 2005 peristiwa kelam yang menjadi titik tolak lahirnya Undang-Undang Pengelolaan Sampah dan Hari Peduli Sampah Nasional.

Meski dunia terus berubah cepat, warga Kampung Adat Cireundeu memilih berjalan perlahan namun penuh keyakinan. Mereka, kata Kiki, tidak menolak modernitas, tapi juga tidak ingin tercerabut dari akar tradisi.

“Kita ini lahir kawalani negara. Setia pada Pancasila dan UUD 1945, tapi tak lupa pada akar spiritualitas bangsa,” tegas Kiki.

Soal isu impor singkong oleh pemerintah pusat, Kiki hanya tersenyum ringan.

“Tidak berpengaruh,” jawabnya singkat namun penuh makna. (Mong)

0 Komentar