12 Alasan Mengapa Orang Indonesia Timur Mendukung Israel di Tengah Penderitaan Rakyat Palestina

Alasan Orang Indonesia Timur Mendukung Israel
Alasan Orang Indonesia Timur Mendukung Israel
0 Komentar

Beberapa gereja bahkan mengadopsi elemen ibadah Yahudi seperti tiupan shofar (tanduk kambing), penggunaan simbol menorah, bintang Daud, bahkan pengibaran bendera Israel. Praktik-praktik ini menjadi bagian dari ritual mingguan. Apakah ini salah? Tidak, dalam konteks keimanan mereka. Namun penting untuk disadari bahwa semakin kuat simbol-simbol ini merasuk, semakin kabur batas antara iman dan ideologi politik.

Selain musik, film-film Kristen juga menjadi sumber utama pembentukan narasi pro-Israel. Film seperti Left Behind, Jerusalem Countdown, atau dokumenter seperti Against All Odds: Israel Survives, menjadi tontonan rutin dalam persekutuan doa maupun retret pemuda. Pesannya konsisten: Israel selalu menang karena campur tangan Tuhan. Israel kecil, tapi tak terkalahkan. Dikepung musuh, tapi tetap berdiri. Yesus akan kembali ke Yerusalem, bukan ke Jakarta, Roma, atau Mekah.

Buku-buku karya tokoh Kristen Zionis seperti John Hagee dan Derek Prince tersebar luas di toko buku Kristen lokal. Semua membawa pesan serupa: berkat Tuhan akan turun atas bangsa dan individu yang membela Israel.

Baca Juga:2 Resep Es Kopi Enak dan Murah Bahan Kurang Dari Rp10.000 Andalan Anak Kos10 Game Android Offline Terbaik 2025, Seru Tanpa Koneksi Internet

Tanpa paparan terhadap perspektif lain, masyarakat akan cenderung melihat konflik Israel–Palestina bukan sebagai ketimpangan kekuatan atau bentuk kolonialisme modern, melainkan sebagai kisah heroik umat Tuhan melawan dunia yang jahat.

  1. Menganggap Israel adalah Saudara

Identitas yang terbentuk di sebagian masyarakat Kristen Indonesia timur adalah bahwa mereka merupakan saudara seiman Israel. Lewat narasi yang dibangun selama puluhan tahun melalui ibadah, lagu rohani, film, buku, dan khotbah, terbentuklah identitas kolektif yang tidak kasat mata namun sangat terasa: Kami bukan bagian dari dunia Arab atau Islam. Kami tidak memiliki hubungan spiritual dengan Palestina. Israel adalah saudara seiman kami.

Identitas ini tentu tidak terbentuk dalam semalam. Ia merupakan hasil dari penguatan simbolik dan narasi sepihak yang berlangsung terus-menerus. Dan karena narasi ini dikaitkan dengan keimanan, maka posisinya menjadi sangat sakral dan sulit untuk dipertanyakan. Kritik terhadap Israel dianggap bukan sekadar kritik terhadap negara, tetapi seolah-olah merupakan bentuk perlawanan terhadap Tuhan itu sendiri. Di titik ini, simpati terhadap Israel bukan lagi pilihan politik, melainkan bagian dari identitas rohani.

0 Komentar