JABAR EKSPRES – Realisasi pendapatan dan belanja Provinsi Jawa Barat tengah jadi sorotan. Itu setelah ada evaluasi dari Kemendagri pada Rakor, Senin (7/7).
Sementara itu, berikut rincian pendapatan dan belanja Pemprov Jabar menutur portal resmi djpk.kemenkeu.go.id, yang diakses Kamis (10/10). Data ini menggambarkan realitasi APBD Jawa Barat per 9 Juli 2025.
Tercatat Pendapatan Daerah ada di angka Rp 6.852,98 miliar atau 22,11 persen dari pagu Rp 30.998,96 miliar. Rincianya, Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp 3.560,89 miliar atau 18,44 persen.
Baca Juga:Viral Rumah Warga Dirusak di Cimenyan, Polisi Tegaskan Bukan Ulah OrmasKembali ke Indonesia Jadi “Koki” Sabu, WNA Iran Dibekuk Polda Jabar
PAD itu terinci dari, Pajak Daerah Rp 3.479,84 miliar atau 19,88 persen. Retribusi Daerah Rp 65,67 miliar atau 7,59 persen.
Lalu hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan Rp 2,39 miliar atau 0,58 persen. Dan lain-lain PAD yang sah sebesar Rp 12,99 miliar atau 2,44 persen.
Berikutnya, realisasi belanja daerah ada di angka Rp 8.778 miliar atau 28,25 persen. Rincianya, belanja pegawai Rp 3.536,54 miliar atau 38,81 persen.
Kemudian belanja barang dan jasa Rp 1.634,17 miliar atau 21,59 persen. Belanja modal Rp 306,65 miliar atau 17,33 persen. Serta belanja lainnya sebesar Rp 3.300,65 miliar atau 26,15 persen.
Selain itu, realisasi APBD itu juga ada pengeluaran untuk pembiayaan daerah. Itu untuk penyertaa modal daerah sebesar Rp 50 miliar dan pembayaran cicilan pokok utang yang jatuh tempo Rp 47,23 miliar.
Sebelumnya, Mendagri Tito Karnavian sempat menyinggung realisasi APBD Jabar. Capaiannya kalah dengan DIY dan NTB. Padahal biasanya Jabar ada di puncak.
Tito menguraikan, Realisasi Pendapatnya 44,72 persen. Kemudian belanja daerahnya ada di 38,79 persen.
Baca Juga:Deputi Karantina: Sawit Adalah Emas Hijau, Perlu Dijaga dan DikembangkanSekda Jabar: Realisasi Belanja dan Pendapatan Kita Justru di Atas Nasional
Sementara itu, Sekda Jabar Herman Suryatman juga sempat merespon terkait realisasi APBD itu. Realisasi Jabar ada di angka 38,79 persen.
“Berarti itu bagus dong. Berada di atas rata-rata nasional. Nasional hanya 31,81 persen, ” katanya.
Dalam video yang juga dibagikan dalam akun medsosnya itu, Herman mengakui memang secara peringkat dibanding Provinsi lain Jabar kalah. “Hanya saja memang secara peringkat bulan ini DIY dan NTB lebih baik. Tapi kan gak terlalu jauh. Kita ketiga nasional,” cetusnya.
Herman melanjutkan, narasi pendapat anjlok juga tidak benar. Realisasi pendapatan Jabar saat ini juga di atas Nasional.
