JABAR EKSPRES – Eks pemain Persib Bandung yaitu Yanto Basna turut mengomentar regulasi baru dari PT Liga Indonesia Baru (LIB) yang saat ini telah berubah menjadi Indonesia League.
Diketahui bahwa PT LIB tersebut menerapkan regulasi bahwa setiap tim Liga 1 (kini menjadi Super League) termasuk Persib, boleh merekrut sebanyak 11 pemain asing.
Dari 11 pemain asing yang direkrut tersebut, setiap tim diperbolehkan untuk memainkan sebanyak 8 pemain asing sekaligus.
Baca Juga:Melalui Soyalympic Door of Future 2025, Morinaga Soya Buktikan Anak Sensitif Susu Sapi Bisa Sehat, Aktif, dan Percaya Diri untuk Meraih MimpiBerikan Kenyamanan Peserta, Tes Terstandar Berjalan Lancar
Akan tetapi, tiga pemain asing tersisa tidak boleh masuk daftar susunan pemain dan paling hanya menonton saja di tribun.
Yanto Basna Beri Komentar
Tentu regulasi baru ini mendapatkan respon dari berbagai pihak, termasuk dari Yanto Basna, pemain yang pernah membela Maung Bandung pada tahun 2016.
Menurutnya, kebijakan boleh merekrut 11 pemain asing ini masih kurang tepat diterapkan terutama tujuannya untuk mengangkat kualitas liga.
Bahkan Basna menawarkan bahwa seharusnya regulasi yang diterapkan adalah perekrutan pemain asing wajib bagi yang pernah membela timnas negaranya minimal tiga kali.
“Kalau untuk meningkatkan kualitas level liga oke aja, tapi bila perlu regulasinya ‘pemain asing yang main di Liga 1 Indonesia wajib pernah membela timnas negaranya minimal 3x’,” katanya.
Basna meneruskan bahwa jika ingin meningkatkan kualitas liga, maka harus menerapkan standar tinggi untuk para pemain asing yang direkrut.
“Jadi kalau mau menaikkan kualitas liga, ya pemain asing juga harus dikasih standar tinggi. Agar dampak ke pemain lokal dan dengan sendirinya akan mendorong liga lebih baik dan profesional,” ucap pemain berposisi bek tengah tersebut.
Baca Juga:Dukung Program 3 Juta Rumah, Presiden Prabowo, Bank BJB PB Tapera, dan APERSI Gelar Sosialisasi FLPP di SukabumiBukan ke Persib Bandung, Rafael Struick Justru Bakal Gabung ke Tim Liga 1 Ini
Lebih lanjut, dalam pandangannya bahwa semua negara pasti berlomba-lomba untuk membuat sepak bolanya maju walaupun terkadang tidak sesuai dengan realitas.
“Semua negara berkompetisi memajukan sepakbolanya, realita menyakitkan adalah tentang pilihan ‘go profesional or stay tarkam,’,” tutupnya.*
