JABAR EKSPRES — Sejumlah pedagang kaki lima di Teras Cihampelas menyatakan keberatan atas wacana pembongkaran kawasan wisata belanja tersebut, seperti diusulkan Dedi Mulyadi.
Pasalnya mereka menilai belum ada solusi yang jelas jika area yang menampung pedagang sejak 2017 itu dihapuskan. Terlebih kondisi geliat ekonomi di area ini makin menurun pasca terdampak Covid-19.
Satu dari puluhan pedagang yang masih bertahan, Ira (55), menilai pemerintah sebaiknya mengevaluasi kembali upaya revitalisasi kawasan.
Baca Juga:Hadir di Bandung, Robopark Indonesia Perkenalkan Dua Robot Canggih Berteknologi AI kepada MasyarakatDedi Mulyadi Berangkatkan 227 Calon Taruna ke Magelang, Ketahanan Mental jadi Perhatian
“Kalau buat PKL menyayangkan kalau ada rencana dibongkar. Kenapa nggak ada solusi? Bagaimana supaya ramai kembali?” ujar Ira kepada Jabar Ekspres di lokasi dagangnya, Jumat (4/7).
Dia menambahkan para pedagang sudah berjuang delapan tahun di kawasan itu dengan berbagai suka duka, termasuk saat pandemi Covid-19 yang membuat kunjungan sepi.
Ira juga menilai kondisi bangunan saat ini masih layak, meski aktivitas pembeli belum stabil. Menurutnya, para pedagang membutuhkan kejelasan dari pemerintah agar tidak resah.
Sejak awal, Ira menjelaskan bahwa Teras Cihampelas memang sempat ramai dalam dua tahun pertama. Namun selepas pandemi, kondisi terus menurun.
Dirinya berharap jika pemerintah bermaksud menata ulang kawasan, sebaiknya perbaikan dilakukan tanpa harus membongkar. “Kami sudah laporan ke koperasi PKL. Semoga dikasih informasi biar pada tenang,” tandasnya.
Sementara itu, Ketua Koperasi Pedagang Kaki Lima Teras Cihampelas, Edo, menanggapi wacana pembongkaran Teras Cihampelas dengan mengedepankan prinsip win-win solution.
Menurutnya, kawasan tersebut masih bermanfaat sebagai ruang aktivitas masyarakat dan wisatawan. Kendati saat ini hanya tersisa 50-an pedagang dari jumlah semula sebanyak 192 kios.
Baca Juga:Pastikan Keamanan Laga Pembuka Piala Presiden 2025, 2.632 Personel Gabungan DikerahkanPeduli Pendidikan, Pemkot Banjar Kolaborasi dengan PGRI Tuntaskan Persoalan Anak Putus Sekolah
“Ini sudah dibangun dari pajak negara, hampir Rp48 miliar. Kalau dihilangkan begitu saja kan mubazir. Bisa dipakai olahraga, komunitas, secara fungsi masih berjalan,” kata Edo.
Dia lantas menyebut proses pembongkaran akan menimbulkan ongkos baru dan membutuhkan kajian panjang. Menurutnya, anggaran yang akan dipakai untuk kajian sebaiknya dialihkan memperbaiki fasilitas Teras Cihampelas.
Meski demikian, Edo memahami jika pemerintah daerah ingin memperbaiki kawasan agar tidak kumuh. Namun diharapkannya solusi tidak semata pembongkaran, melainkan perbaikan fasilitas agar kawasan tetap berfungsi sebagai destinasi wisata Kota Bandung.
