Puluhan Tahun Menyapu Jalan, 93 Pahlawan Kebersihan Tersapu Administrasi

Puhan Tahun Menyapu Jalan, 93 Pahlawan Kebersihan Tersapu Administrasi
93 tenaga kebersihan (Pesapon) berkumpul di Pendopo Kota Banjar, Senin (30/6/2025) siang. Mereka dirumahkan karena tak lolos P3K, terbentur ijazah dan batas usia. (Cecep Herdi/Jabar Ekspres)
0 Komentar

Di balik statistik yang dingin, ada wajah-wajah lelah penuh cerita. Seperti Jeje Sudarsono (70). Lelaki sepuh ini hanya mengantongi ijazah Sekolah Dasar (SD). Puluhan tahun hidupnya dihabiskan menyapu jalanan, memunguti sampah demi sampah, mengais rezeki dari honor yang pas-pasan. Secara fisik, Jeje mengaku masih kuat.

Tenaganya masih sanggup mengayun sapu, tangannya masih cekatan memungut sampah. Namun, administrasi dan angka di KTP-nya berbicara lain. Ia terpaksa menelan pil pahit itu, berhenti bekerja, bukan karena tak mampu, tapi karena dianggap terlalu tua dan tak cukup berpendidikan oleh sistem. “Terpaksa menerima keputusan,” ujarnya, singkat.

Kabut pagi di Kota Banjar esok hari mungkin akan tetap disapu bersih oleh petugas yang tersisa. Tapi, ada 93 ruang kosong yang tak tergantikan. 93 orang yang selama ini menjadi penjaga pertama kebersihan kota, yang memastikan warga memulai hari dengan lingkungan yang rapi, kini harus menyapu pergi kekecewaan mereka sendiri.

Baca Juga:Dorong Industri Hijau, Kemenperin Berikan Ruang Bagi Generasi Muda untuk Riset Sains Inovasi Ramah LingkunganBangun Tugu Helikopter, Bupati Bogor Sebut Ini Bagian Sejarah Perjalanan TNI AU

Mereka pergi bukan karena malas atau tak becus bekerja, tapi karena terganjal ijazah yang tak dimiliki dan usia yang justru menjadi bukti pengabdian panjang. Pelepasan dengan penghargaan setinggi-tingginya dan bantuan Rp600.000 terasa seperti tetes air di tengah gurun ketidakpastian bagi para pahlawan tanpa jubah yang telah menyumbangkan tenaga terbaiknya, hanya untuk pada akhirnya tersingkir oleh tinta basah dan kolom administrasi. (CEP)

0 Komentar