Hari ini, sejarah kita bukan sedang ditulis ulang, tapi perlahan-lahan dihapus. Dimiskinkan maknanya. Dicuci dari luka-lukanya. Disamarkan darahnya.
Dan yang menyamarkannya bukan penjajah, tetapi pejabat yang terlalu takut menghadapi bayang-bayang masa lalu bangsanya sendiri.
Lalu mereka berkata, “Jangan baper, ini hanya soal narasi.”
Tapi bagaimana kami bisa tidak terluka, kalau yang dipermainkan adalah nyawa, tubuh, dan martabat para ibu yang kehilangan anak-anaknya, lalu dilupakan begitu saja di meja revisi kebudayaan?
Baca Juga:4 Langkah Cerdas Sebelum Kamu Putuskan Resign8 Bentuk Penyimpangan Umat Beragama di Indonesia yang Menjijikan
Jika sejarah hanya menjadi kumpulan dongeng yang menyenangkan bagi penguasa, maka benarlah: kebenaran di negeri ini bukan lagi dicari, tetapi dipoles agar tampak rapi.
Dan negara yang katanya menjunjung tinggi kemanusiaan dan keadilan, kini malah menjadi tukang cat yang sibuk menutupi noda, bukan mengakui bekas luka.
Karena itu, hari ini kita menolak lupa, kita menolak diam, dan kita menolak tunduk pada sejarah versi penguasa yang alergi terhadap kebenaran.
Sebab, bangsa yang sehat bukanlah bangsa yang menutupi borok masa lalunya, tetapi bangsa yang berani menatapnya dengan kepala tegak, utuh, dan tanpa sensor.
