JABAR EKSPRES – Pernyataan Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, yang menyebut tidak ada bukti konkret terkait peristiwa pemerkosaan massal pada Mei 1998, memicu polemik.
Tragedi yang dikenal sebagai kerusuhan 1998 bukan hanya soal penjarahan dan pembakaran pusat-pusat pertokoan serta rumah penduduk. Di balik semua itu, terdapat tindakan kekerasan brutal dan perundungan seksual terhadap perempuan, terutama dari kelompok etnis Tionghoa.
“Jangan sekali-kali melupakan sejarah,” begitu pesan Bung Karno. Namun tampaknya, yang paling sering menyapu sejarah ke bawah karpet, menyembunyikannya, dan bahkan menyangkalnya, justru adalah mereka yang duduk di atas panggung kekuasaan.
Baca Juga:4 Langkah Cerdas Sebelum Kamu Putuskan Resign8 Bentuk Penyimpangan Umat Beragama di Indonesia yang Menjijikan
Usul Penghapusan Sejarah Tragedi Mei 1998
Bagi para pemenang, sejarah bukan lagi catatan luka dan pelajaran. Ia bisa berubah menjadi alat sulap: dipoles, dirombak, dan dipertontonkan demi menciptakan narasi yang menyenangkan bagi penguasa. Di tangan seorang menteri bernama Fadli Zon, sejarah dijemur di bawah nyala api yang bahkan bisa membakar dirinya sendiri.
Lalu keluarlah pernyataan bahwa pemerkosaan massal pada Mei 1998 mungkin hanya sebuah cerita. Tapi maaf, Pak Menteri, bagi Anda yang tidak merasakan luka sedalam itu, mungkin mudah untuk melupakannya. Namun bagaimana dengan seorang ibu yang kehilangan anaknya, seperti ibu dari Ita Martadinata? Ita, korban kekerasan seksual pada Mei 1998, tewas dibunuh sebelum sempat bersaksi di sidang PBB.
Bagaimana pula perasaan seorang gadis yang diseret paksa ke dalam mobil, lalu diperkosa secara bergiliran oleh para pelaku tak berperikemanusiaan di jembatan Slipi? Dan bagaimana dengan trauma para aktivis seperti Romo Sandyawan, Itaf, Fatia, Nadya, dr. Lee Darmawan, dan sederet nama lainnya yang menyaksikan sendiri betapa brutalnya kekerasan yang terjadi?
Jika sejarah tentang kekerasan seksual massal pada Mei 1998 ini dihapus atau diabaikan, maka seluruh catatan tentang kekerasan dalam tragedi 1998 akan menghilang dalam kabut gelap sejarah.
Lalu, bagaimana dengan keluarga yang kehilangan anak, adik, ayah, atau paman, yang hilang, lenyap, atau terbakar di dalam pusat-pusat perbelanjaan yang sengaja dibakar saat tragedi itu? Semua itu hilang, dan yang tersisa hanyalah perih yang tak kunjung sembuh.
