JABAR EKSPRES – Mungkin banyak yang bertanya-tanya, bagaimana mungkin perusahaan rokok sebesar Gudang Garam justru terancam bangkrut? Padahal, menurut data WHO, sebanyak 73,2% pria Indonesia adalah perokok aktif. Namun kenyataannya, laba bersih Gudang Garam anjlok hingga 82%, sementara pasar semakin dibanjiri rokok ilegal dengan harga yang tidak masuk akal.
Kami akan menjelaskan secara sederhana mengapa industri yang tampaknya sangat kuat ini ternyata bisa rapuh juga, khususnya dalam kasus Gudang Garam yang kini berada dalam tekanan besar.
Secara logika, industri rokok seharusnya menjadi bisnis yang sangat menguntungkan. Bayangkan saja, dari satu bungkus rokok seharga Rp10.000, pemerintah bisa memperoleh lebih dari setengahnya, yaitu sekitar Rp5.370 melalui berbagai pungutan pajak: cukai sebesar 40% per batang, PPN sebesar 9,7% dari harga jual, dan pajak rokok sebesar 10% dari tarif cukai.
Baca Juga:Aplikasi AMV Mengklaim Legal dan Punya Kantor Tapi Penghasil Uang Skema Ponzi7 HP 5G Layar AMOLED 120 Hz Murah Terbaik 2025, Mulai Rp2 Jutaan!
Tak heran jika pada tahun 2022, penerimaan negara dari cukai rokok menembus angka Rp226 triliun, jauh lebih besar dibandingkan dengan total laba BUMN secara nasional. Ini adalah kontribusi yang sangat besar.
Selain sebagai penyumbang pajak yang signifikan, industri rokok juga menjadi sumber penghidupan bagi jutaan orang. Diperkirakan ada sekitar 5 hingga 6 juta tenaga kerja yang menggantungkan hidupnya pada industri ini, mulai dari petani tembakau, buruh pabrik, pelinting rokok manual, hingga para pelaku distribusi dan penjualan.
Dahulu, Gudang Garam termasuk raksasa dalam ekosistem ini. Pada tahun 2019, laba bersih perusahaan sempat mencapai Rp10,8 triliun. Namun, situasi berubah drastis. Pada tahun 2024, laba bersih Gudang Garam hanya tersisa Rp981 miliar, turun lebih dari 82% dibandingkan tahun sebelumnya yang masih mencatatkan laba sebesar Rp5,3 triliun.
Saham perusahaan pun anjlok tajam, dari sekitar Rp90.000 per lembar menjadi hanya sekitar Rp9.600. Ini bukan sekadar penurunan biasa, melainkan sinyal bahwa ada masalah serius yang tengah terjadi di balik layar industri rokok besar ini.
Sebagai imbas dari penurunan tersebut, Gudang Garam memutuskan untuk menghentikan pembelian tembakau dari Temanggung. Keputusan ini diambil karena stok tembakau mereka sudah menumpuk dan dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan produksi hingga empat tahun ke depan, dengan asumsi kondisi penjualan masih seperti saat ini.
