JABAR EKSPRES – Konflik bersenjata antara Israel dan Iran yang berlangsung selama 12 hari memunculkan dinamika baru di kawasan Timur Tengah. Setelah hampir dua pekan menggempur berbagai sasaran di wilayah Iran, militer Israel kini dikabarkan mengalami krisis amunisi yang serius.
Situasi ini menjadi pukulan telak bagi kekuatan militer negara tersebut yang selama ini dikenal memiliki persenjataan modern dan kemampuan tempur tinggi.
Ketegangan memuncak sejak 13 Juni 2025, ketika Israel memulai serangan udara masif ke sejumlah fasilitas penting di Iran. Israel menuduh bahwa Iran tengah mengembangkan program nuklir untuk kepentingan militer secara rahasia.
Baca Juga:10 Kuliner Khas Bandung yang Wajib Kamu Coba, No. 5 Bikin Nagih Banget!Update Harga Pangan: Bawang Merah Rp42.651/kg, Cabai Rawit Sentuh Rp56.369/kg
Tuduhan ini menjadi dasar bagi serangkaian aksi militer yang dilakukan Israel secara intensif dalam beberapa hari pertama.
Namun, tuduhan tersebut segera dibantah oleh Pemerintah Iran. Mereka menegaskan bahwa program nuklir yang dikembangkan hanya untuk kepentingan damai dan energi.
Hal ini juga sejalan dengan pernyataan dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, pada 18 Juni menyatakan bahwa tidak ada bukti nyata bahwa Iran sedang membangun senjata nuklir.
Sebagai respons atas serangan Israel, Iran meluncurkan operasi militer balasan yang mereka beri nama “Operation True Promise 3.”
Dalam operasi ini, Iran menargetkan beberapa instalasi militer penting Israel dan berhasil menimbulkan kerusakan signifikan. Serangan balasan ini memperluas skala konflik yang awalnya hanya berupa serangan udara sepihak.
Situasi semakin rumit ketika Amerika Serikat turut terlibat dalam eskalasi. Pada 22 Juni, militer AS menyerang tiga fasilitas nuklir Iran, yang langsung memicu serangan balasan dari Iran ke Pangkalan Udara Al Udeid milik AS di Qatar pada 23 Juni.
Ini menandai perluasan konflik yang berpotensi mengganggu stabilitas regional dan global.
Baca Juga:BSU 2025 Cair? Begini Cara Cek Dana Rp600 Ribu Masuk Rekening atau Tidak5 Moisturizer Pemutih Paling Aman untuk Kulit, No. 1 Wajib Dicoba!
Di tengah panasnya situasi, muncul kabar mengejutkan dari media AS. NBC News, mengutip sejumlah pejabat Amerika Serikat yang tidak disebutkan namanya, melaporkan bahwa stok amunisi Israel mulai menipis.
Kondisi ini terjadi akibat tingginya intensitas serangan dan penggunaan senjata dalam skala besar selama 12 hari berturut-turut.
Kekurangan ini mencakup berbagai jenis amunisi, termasuk rudal dan peluru artileri yang menjadi andalan dalam serangan jarak jauh dan pertempuran darat.
