Jabarekspres – Dalam diam, krisis psikologis tengah mengintai para remaja dan kaum muda di Bandung. Bukan hanya sekadar tekanan akademik atau patah hati bias, melainkan gejolak batin yang dalam, sunyi, dan kerap tidak terlihat. Data terbaru mengungkap, sebagian besar anak muda di kota ini menunjukkan gejala gangguan mental yang bisa berujung fatal: mengakhiri hidup.
Pada September 2024, survei yang dilakukan oleh Ruang Empati terhadap 736 mahasiswa baru di Bandung mencatat angka mencemaskan: 48,6 persen dari responden menunjukkan gejala gangguan mental emosional, termasuk depresi. Bahkan, 5,3 persen di antaranya mengaku memiliki keinginan untuk mengakhiri hidup.
Data ini mempertegas temuan Dinas Kesehatan Kota Bandung pada 2022 yang melakukan skrining terhadap puluhan ribu remaja usia 4–18 tahun. Hasilnya, antara 38 hingga 53 persen terindikasi mengalami gangguan emosional.
Baca Juga:Kombes Pol Kusworo Wibowo Raih Penghargaan Siswa Terbaik Mental Kepribadian di Yudisium Sespimti Polri Angkatan 34TPS Pasar Kosambi Membludak, Warga: Dua Bulan Lebih Tidak Terangkut
Di lingkungan pelajar SMP dan SMA, penelitian dengan instrumen Strength and Difficulties Questionnaire (SDQ) menunjukkan 21 persen remaja memiliki masalah psikologis total, dengan 28 persen mengalami gejala emosional seperti kesedihan berlebihan, rasa tidak berguna, hingga mudah marah tanpa sebab.
Krisis ini tak berhenti di bangku sekolah. Di kelompok dewasa muda (18–40 tahun), survei terhadap 341 responden di Bandung pada tahun 2023 menunjukkan bahwa 39 persen mengalami depresi berat, berdasarkan pengukuran menggunakan Beck Depression Inventory-II lewat penelitian yang dilakukan Susanti Niman dan kawan-kawan.
“Kadang saya merasa enggak bisa napas. Di rumah dituntut bantu ekonomi, di kampus harus lulus tepat waktu. Teman banyak, tapi enggak ada yang bisa benar-benar ngerti,” ujar D, seorang mahasiswa tingkat dua di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung.
Mengapa angka ini begitu tinggi?
Menurut Psikolog, sekaligus Direktur PT Martasandy Psychology Indonesia, Billy Martasandy Ph.D menyebut, remaja di Kota Bandung cenderung dilingkupi perasaan cemas dalam dirinya, ketika pencapaian seseorang jadi tolak ukur. Perasaan cemas pasti terbentuk dalam pikiran remaja yang rentan mengalami gangguan mental.
“Tekanan sosial dan akademik yang besar di kota Bandung, remaja sekarang hidup di dunia yang serba cepat dan kompetitif. Mereka dituntut buat berprestasi, nilai bagus, aktif, punya skill ini-itu, tapi kadang tanpa dikasih ruang buat istirahat dan jadi diri sendiri,” kata Billy.
