Sisi Gelap Minuman Berenergi, Ternyata Menipu Banyak Konsumen

Sisi Gelap Minuman Berenergi, Ternyata Menipu Banyak Konsumen
Sisi Gelap Minuman Berenergi, Ternyata Menipu Banyak Konsumen
0 Komentar

Dengan kata lain, satu kaleng minuman berenergi saja sudah mencakup sekitar 50–60% dari batas konsumsi gula harian kita. Bayangkan jika seseorang meminum dua, tiga, atau bahkan sepuluh kaleng dalam sehari. Alih-alih membuat tubuh lebih aktif dan terjaga, justru hal ini dapat merusak kesehatan tubuh secara perlahan.

Terlebih lagi, kafein dan gula bersifat adiktif. Sekali dikonsumsi, kita cenderung ingin mengonsumsinya lagi dan lagi. Sayangnya, semua potensi bahaya ini sering kali diremehkan karena kekuatan pemasaran dari merek-merek minuman berenergi yang sangat meyakinkan.

Bagaimana tidak? Red Bull, dengan strategi pemasarannya yang konsisten mendukung berbagai ajang olahraga ekstrem, berhasil membentuk citra kuat bahwa para pelaku olahraga ekstrem tersebut memang mengonsumsi Red Bull.

Baca Juga:7 HP Terbaru 2025 dengan Baterai di Atas 5000 mAh, Resmi Rilis di IndonesiaSmadav Pernah Jaya, Tapi Kenapa Sekarang Mulai Dilupakan?

Bahkan, sering kali nama produk itu sendiri—seperti Monster, Power F, Panther, atau Extra Joss—secara tidak langsung memengaruhi pikiran kita, seolah-olah produk ini benar-benar “powerful” atau penuh tenaga. Nama-nama yang terdengar ekstrem ini membuat kesan bahwa minuman tersebut mampu memberikan kekuatan instan.

Namun pada kenyataannya, minuman berenergi tidak berbeda jauh dengan minuman kemasan lainnya. Produk-produk ini seharusnya hanya dikonsumsi dalam jumlah minimal karena kandungan gula dan bahan-bahan lain di dalamnya cukup berisiko jika dikonsumsi secara berlebihan atau terlalu sering. Semua klaim mengenai manfaat kesehatan pada dasarnya hanyalah strategi pemasaran.

Hal ini tidak hanya berlaku pada minuman berenergi, tetapi juga pada produk makanan dan minuman kemasan lainnya. Produk-produk tersebut sebenarnya biasa saja—bahkan bisa membahayakan bila dikonsumsi secara berlebihan. Namun, pemasaran mereka dirancang sedemikian rupa hingga seolah-olah produk tersebut adalah pilihan paling sehat.

Oleh karena itu, diperlukan riset yang mendalam dan literasi gizi yang baik agar kita bisa lebih cermat dan sadar dalam memahami kandungan nutrisi dari produk makanan dan minuman yang kita konsumsi.

Industri ini hanyalah sebagian kecil dari gambaran betapa kotornya praktik di industri makanan dan minuman secara keseluruhan. Kenyataannya, terdapat begitu banyak kebohongan yang terjadi—bahkan melibatkan perusahaan-perusahaan besar dan ternama di dunia.

0 Komentar