Krisis Pendidikan Seks di Indonesia Akibat Fatwa Haram yang Menyimpang

Krisis Pendidikan Seks di Indonesia
Krisis Pendidikan Seks di Indonesia
0 Komentar

Mengapa kejadian-kejadian semacam ini lebih sering muncul dari wilayah yang jauh dari pusat kota besar?

Inilah yang menjadi perenungan: kota-kota besar seperti Bandung, Yogyakarta, dan Jakarta Selatan memang dikenal lebih terbuka terhadap isu seksual dan memiliki budaya yang lebih permisif. Namun, mereka juga memiliki akses yang lebih luas terhadap pendidikan, informasi, layanan kesehatan reproduksi, serta ruang diskusi yang sehat dan ilmiah tentang seksualitas.

Sementara itu, wilayah-wilayah seperti Ponorogo dan kabupaten lainnya mungkin mengalami keterbatasan dalam hal pendidikan seksual, akses terhadap kontrasepsi, serta bimbingan psikologis dan sosial.

Baca Juga:4 Cara Ampuh Menurunkan Kolesterol Tinggi Secara Alami Setelah Idul AdhaHonda Genio Kalah Saing Terjepit Antara Beat, Scoopy, dan Vario

Maka, ketika kebebasan seksual tetap terjadi di wilayah-wilayah tersebut—yang notabene masih memegang kuat nilai-nilai konservatif tanpa dibarengi pemahaman dan perlindungan yang memadai—dampaknya bisa jauh lebih besar dan merugikan.

Dengan kata lain, kebebasan tanpa edukasi dan kesadaran akan tanggung jawab justru berisiko menciptakan kerusakan yang lebih besar, terutama di wilayah yang belum siap secara infrastruktur sosial maupun budaya.

Namun, masyarakat di negara-negara Barat umumnya sudah lebih mengenal pendidikan seks sejak dini. Pendidikan seks di sana diajarkan kepada siswa secara sistematis. Lalu, apa saja yang diajarkan? Secara khusus, ada dua aspek utama yang dikembangkan. Pertama, bagaimana memisahkan antara seks dan reproduksi. Kedua, bagaimana menjalani aktivitas seksual dan reproduksi secara sehat dan bertanggung jawab.

Hal-hal tersebut diajarkan sehingga meskipun mereka melakukan hubungan seksual, aktivitas tersebut benar-benar terkendali, termasuk aspek reproduksinya. Penjelasan ini di luar konteks moral, namun yang jelas mereka memahami dampaknya. Mereka mengetahui konsekuensi dari tindakan tersebut dan juga sudah memahami bagaimana masyarakat akan menyikapinya.

Masyarakat pun sebenarnya telah mengetahui langkah-langkah yang harus diambil ketika ada anggota keluarga atau bagian dari komunitas yang melakukan hal semacam itu. Semua sudah dalam kendali, termasuk apakah bayi yang dilahirkan benar-benar diinginkan atau tidak. Semua dapat diantisipasi, karena adanya pendidikan seks yang kuat dan menyeluruh di sana.

Sebaliknya, di wilayah-wilayah pinggiran, kebebasan seksual bukan diterima secara terbuka, melainkan hanya meresap secara diam-diam. Artinya, mereka yang tinggal di daerah terpencil mengakses informasi tersebut, melihatnya, terinspirasi, bahkan melakukan hal serupa, tetapi semuanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

0 Komentar