Krisis Pendidikan Seks di Indonesia Akibat Fatwa Haram yang Menyimpang

Krisis Pendidikan Seks di Indonesia
Krisis Pendidikan Seks di Indonesia
0 Komentar

Atau mari kita lihat Papua Nugini, di mana tingkat infeksi HIV sangat tinggi dan mengkhawatirkan. Jika kita anggap bahwa dampak lain dari kebebasan seksual adalah meningkatnya kasus pemerkosaan, maka negara-negara dengan tingkat pemerkosaan tertinggi juga masih didominasi oleh negara-negara di kawasan Timur dan Selatan. Padahal, negara-negara Barat yang lebih terbuka secara seksual justru tidak mencatat angka setinggi itu.

Pertanyaannya, mengapa dampak negatif dari kebebasan seksual justru lebih parah di negara-negara yang secara budaya lebih konservatif? Mengapa negara-negara yang lebih terbuka tidak mengalami lonjakan kasus yang sama?

Hal ini tentu menunjukkan bahwa persoalan seksualitas tidak hanya berkaitan dengan tingkat kebebasan, tetapi juga erat hubungannya dengan kualitas pendidikan, kesadaran kesehatan, serta sistem sosial yang mendukung perlindungan dan edukasi yang memadai.

Baca Juga:4 Cara Ampuh Menurunkan Kolesterol Tinggi Secara Alami Setelah Idul AdhaHonda Genio Kalah Saing Terjepit Antara Beat, Scoopy, dan Vario

Bukankah salah satu dampak dari kebebasan seksual adalah meningkatnya kasus pemerkosaan? Lalu mengapa justru angka pemerkosaan lebih tinggi terjadi di negara-negara kawasan Selatan dan Timur?

Atau jika kita ambil variabel lain, misalnya angka aborsi sebagai dampak negatif dari kebebasan seksual, data global menunjukkan bahwa tingkat aborsi tertinggi justru terdapat di negara-negara seperti Vietnam dan Kazakhstan.

Hal ini mengarah pada pertanyaan yang sama: jika negara-negara Barat merupakan wilayah dengan tingkat kebebasan seksual tertinggi, mengapa negara-negara di kawasan Timur yang justru menanggung dampaknya paling besar?

Jawabannya ada pada poin-poin penting yang akan kita bahas berikut ini.

Contohnya, jika kita melihat situasi di Indonesia: kota mana yang bisa disebut paling bebas secara seksual? Jika kita menilai berdasarkan tingginya akses terhadap situs pornografi, angka hubungan seksual di luar nikah, atau indikator seperti isu keperawanan yang sering dijadikan tolok ukur, maka kota-kota seperti Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta Selatan kerap disebut sebagai pusat kebebasan tersebut.

Namun yang menarik, mengapa justru kasus-kasus seperti para pelajar yang harus mengajukan dispensasi menikah, mengalami kehamilan di luar nikah, atau bahkan putus sekolah lebih banyak terjadi di daerah seperti Ponorogo atau wilayah-wilayah kabupaten lainnya? Padahal secara ukuran dan pengaruh, Ponorogo bukanlah kota besar jika dibandingkan dengan Bandung atau Yogyakarta.

0 Komentar