JABAR EKSPRES — Kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak, termasuk anak-anak dengan disabilitas yang terjadi di Kota Bandung harus menjadi perhatian serius.
Pengamat psikologi sekaligus Direktur PT Martasandy Psychology Indonesia, Billy Martasandy Ph.D meminta agar korban yang mengalami kekerasan seksual, terutama anak dengan disabilitas, mendapatkan pendampingan khusus secara emosional dan psikologis untuk mencegah dampak jangka panjang, seperti gangguan stres pascatrauma (PTSD) dan depresi berat.
“Anak-anak korban kekerasan seksual sangat berisiko mengalami trauma mendalam yang bisa berujung pada PTSD. Gejala seperti mimpi buruk, kecemasan berlebihan, rasa takut yang tidak terkendali, hingga kehilangan kepercayaan diri kerap muncul. Pada anak-anak disabilitas, kondisi ini bahkan bisa lebih kompleks karena mereka mengalami hambatan dalam komunikasi dan sosio-emosional,” ujar Billy, Rabu (28/5)
Baca Juga:DLH Cimahi Susun Peta Masalah Lingkungan, Alih Lahan hingga Udara Kotor2 Terduga Pelaku Perusakan Stadion GBLA Diamankan, Terancam Pasal 406 dan 170 KUHP
Menurutnya, anak disabilitas yang mengalami kekerasan seksual akan menghadapi tantangan berlapis. Tidak hanya merasa bingung, sedih, marah, atau hina, mereka juga kesulitan dalam mengenali dan mengekspresikan perasaan mereka.
“Banyak dari mereka bahkan tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi karena keterbatasan dalam memahami situasi di sekitarnya. Ini bisa terus terbawa hingga dewasa bila tidak ditangani dengan tepat,” tambahnya.
Ia menegaskan pentingnya peran orang tua dalam mengamati perubahan perilaku anak secara mendalam, bukan hanya di permukaan.
“Pada anak disabilitas, orang tua harus lebih peka dan aktif menyelidiki keseharian anak. Perubahan sikap atau kebiasaan kecil bisa menjadi tanda adanya masalah besar.”
Disisi lain, tim Psikolog PT Martasandy Psychology Indonesia, Sarah Shafya Fadinastasha S.Psi., M.Pd. menyebut, dampak psikologis yang muncul, seperti rasa malu, bersalah, hingga penurunan harga diri dan kesulitan dalam membangun hubungan sosial, kerap kali terjadi. Apalagi bagi anak yang mengalami hambatan sosio-emosional, di mana mereka cenderung sulit membedakan mana situasi yang aman dan tidak aman.
“Orang dewasa yang mengalami hal serupa saja membutuhkan waktu panjang untuk pulih, apalagi anak-anak dengan keterbatasan disabilitas,” jelasnya.
Sebagai langkah perlindungan dan pemulihan, ia menekankan pentingnya menciptakan lingkungan yang aman dan penuh dukungan. “Orang tua harus menjadi pelindung dan pendamping utama. Dengarkan anak tanpa menghakimi, berikan ruang aman untuk mengekspresikan perasaan, dan awasi kegiatan mereka sehari-hari dengan penuh empati.”
