Setengah Hari Tanpa Aturan di Bandung

Sejumlah pesepak bola Persib Bandung dan official membawa tropi saat pawai menaiki kendaraan Maung melintasi Jalan Wastukencana, Bandung, Minggu (25/5). Pawai Tim Persib Bandung yang diikuti ribuan warga Kota Bandung untuk merayakan gelar juara Persib Bandung Liga 1 Indonesia musim 2024-2025. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
Sejumlah pesepak bola Persib Bandung dan official membawa tropi saat pawai menaiki kendaraan Maung melintasi Jalan Wastukencana, Bandung, Minggu (25/5). Pawai Tim Persib Bandung yang diikuti ribuan warga Kota Bandung untuk merayakan gelar juara Persib Bandung Liga 1 Indonesia musim 2024-2025. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

Minggu pagi, kota belum sepenuhnya terbangun. Tapi klakson motor dan teriakan Bobotoh sudah terdengar riuh diberbagai penjuru Kota Bandung. Dari Pasteur hingga Cibiru, dari Buah Batu ke Dago. Lampu merah berubah hijau tak pernah kuning maupun merah, toko tutup setengah pintu, dan jalan raya menjelma menjadi arak-arakan liar.

Sadam Husen Soleh Ramdhani, Jabar Ekspres.

Ini bukan huru-hara, apalagi demonstrasi. Tapi euforia Back To Back Persib menjuarai BRI Liga 1 2023/2024 dan 2024/2025. Setengah hari itu, Bandung seperti kehilangan urat aturan. Tapi semua orang tersenyum.

Setengah hari tanpa aturan itu bukan tentang kekacauan. Tapi tentang bagaimana sebuah klub sepak bola bisa menjadi sumbu peradaban kota. Membuat yang asing menjadi saudara, yang lelah menjadi berseri, dan yang kehilangan arah, menemukan rumah bersama.

Baca Juga:Amankan Laga Pamungkas Persib Bandung, Polisi Terapkan Skema Khusus Hindari Kepadatan!Dukung Pelaksanaan Car Free Day, DPRD Kota Bogor Wanti-wanti Pemkot

Pukul 12.29 WIB, Simpang Dago macet total, Jalan Diponegoro berubah jadi orkestra, bukan gabungan cello atau biola, tapi klakson dan knalpot brong yang hasilkan irama. Lantunan “Champion Again Persib Bandung” hingga “Hallo-Hallo Bandung” terdengar nyaring, layaknya paduan suara di acara opera.

“Hajat sa-Jawa Barat teh bener ieu mah, teu gerak,” kata Asep, salah satu Bobotoh asal Cicadas yang turut meramaikan pawai, Minggu (25/5).

Hari ini, tidak ada garis pembatas antara pendukung dan warga. Tukang parkir tiba-tiba jadi dirigen, tukang Baso Tahu asik bernyanyi, hingga anak-anak nyaman di bahu ayahnya guna mewariskan turun-temurun mendukung Persib Bandung.

Makna “Bandung Lautan Api” berubah menjadi “Bandung Lautan Manusia”. Yang sama hanya percikannya, percikan api jadi emosi, asap dihasilkan flare, dan ketegangan jadi kebahagiaan.

Saat malam turun, Bandung diharapkan kembali tenang. Tapi gema kemenangan itu tidak akan hilang—tidak besok, tidak sampai musim depan. Karena bagi warga kota ini, Persib bukan cuma klub. Ia adalah denyut nadi.

“Acara Tegalega harus sudah selesai sebelum maghrib demikian perjanjian antara kami pemerintahan kota Bandung, kepolisian kota besar dan juga viking VPC sebagai penyelenggara acara tersebut,” kata Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan.

0 Komentar