“Ini bukan masalah tentang adanya unsur penolakan kepada pihak asing, tapi ini demi kehormatan dan kemartabatan bangsa Indonesia, serta jiwa nasionalisme kami yang besar terhadap Negara karena kami sebagai warga Negara Indonesia,” serunya.
Sebelumnya, suara penolakan juga datang dari Presidium Nasional Koalisi Ojol Nasional (PN-KON) yang tegas menolak potensi penggabungan usaha atau merger Grab-Goto.
Jika Grab mengakuisisi GoTo, dampak terhadap ojol bisa signifikan, terutama jika mengakibatkan perubahan sistem kemitraan menjadi karyawan, serta berkurangnya jumlah mitra ojol dan potensi penurunan kesejahteraan mereka, karena tidak semua mitra akan memenuhi persyaratan untuk menjadi karyawan.
Baca Juga:100 Hari Kerja Pemkab Bogor, Pupuk Organik Hayati Extragen Dongkrak Hasil Panen Raya PadiOno Surono Minta KDM Kembalikan Rp1,7 T Bankeu Kota dan Kabupaten se-Jabar
“Bila Grab-Gojek menjadi pemain dominan, mereka bisa menaikkan tarif potongan untuk mitra ojol, dan ojol tidak bisa mendapatkan pendapatan lain dari perusahaan aplikator lain, dikarenakan pihak aplikator lain di luar Grab akan mengalami mati suri, dan bahkan bangkrut karena kalah bersaing dengan Grab,” ketua Presidium KON Andi Kristiyanto, dalam siaran persnya, Sabtu (10/5). (bbs)
