Tambang di Gunung Karang KBB Ancam Keselamatan dan Kesehatan, Warga Desak PT PLN Hentikan Aktivitas!

1.000 orang di Desa Sarinagen dan Karangsari, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat (KBB) terkontaminasi oleh polusi debu dan getaran yang berpotensi berbahaya bagi masyarak
1.000 orang di Desa Sarinagen dan Karangsari, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat (KBB) terkontaminasi oleh polusi debu dan getaran yang berpotensi berbahaya bagi masyarak
0 Komentar

Ade menjelaskan, pada tahap awal aktivitas tambang, masyarakat belum masyarakat belum merasakan dampak yang signifikan. Namun setelah aktivitas memasuki tahap inti, yakni penambangan dengan metode blasting serta penggilingan. Warga merasakan langsung dampaknya.

“Sudah di demo, itu puncak kekesalan warga. Sekarang aktivitas sudah masuk ke percobaan ledakan dan percobaan gilingan. Tapi itu belum ada komitmen dampak lingkungan dengan masyarakat sekitar 1000 jiwa, meliputi 7 RT 3 RW dan Dua Desa, Desa Karangsari dan Sarinagen,” jelasnya.

“Kenapa masyarakat bergejolak intinya bahwa masyarakat merasa terganggu terutama dalam ledakan dinamit lalu debu dari percobaan penggilingan tersebut. Jadi wajar masyarakat mempertanyakan. Karena bagaimana pun juga ada hak masyarakat dan kewajiban perusahaan,” tambahnya.

Baca Juga:Dari Psikologi ke Garis Depan: Sosok Inspiratif di Balik Lahirnya Generasi Tangguh TNI, Polri, dan Sekolah KedinasanPemerintah Potong BPMU dan Paksa Keluarkan Ijazah, Keadaan Sekolah Swasta Kian Memprihatinkan

Sementara itu, Lia (52) warga Kampung Gunung Karang RT 03/RW 05 Desa Karangsari, mengatakan polusi debu dari aktivitas penggilingan batu andesit terbang masuk ke pemukiman warga hingga memenuhi kaca jendela, genting, lantai rumah, hingga pakaian yang dijemur.

Dirinya khawatir, debu tersebut lambat laun akan mempengaruhi kesehatan masyarakat apalagi aktivitas sehari-hari tanpa menggunakan masker.

“Jadi gilingan batu ini terbang kemana-mana terbawa angin. Kami minta ini bisa diminimalisir supaya tak lagi masuk ke rumah dan pakaian yang sedang dijemur,” katanya.

Selain debu, keresahan Lia menambah saat getaran yang ditimbulkan dari blasting membuat tembok rumah retak-retak, genting jatuh, serta kaca bergetar.

Karena itu, warga meminta setiap kerusakan akibat getaran tersebut diganti rugi oleh pelaksana proyek. Lia memperkirakan jumlah warga terdampak polusi debu dan getaran mencapai 100 kepala keluarga (KK).

“Sudah hampir satu tahun ini berjalan, kami sudah beberapa kali sampaikan agar tanggulangi dulu dampak, tapi mereka gak mengindahkan. Puncaknya hari ini, warga terpaksa demo ke lokasi,” jelasnya.

Warga lainnya, Yanti Puspita Sari (35) mengaku teraniaya dengan adanya lokasi tambang di wilayahnya. Lantaran kegiatan itu menggunakan peledak sehingga mengancam keselamatan aktivitas masyarakat.

Baca Juga:Wanita Muda di Cibinong Ditemukan Bersimbah Tanpa PakaianUpdate Kasus Dokter Priguna, Polisi Bongkar Bukti Baru Lewat Tes DNA

“Belum lagi debu yang mencemari kualitas udara.Dalam aksi protes di lokasi tambang batu, kita juga meminta Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi untuk turun tangan membantu warga memcari solusi atas masalah tersebut,” imbuhnya.

0 Komentar