Produk-produk ini dikembangkan tak hanya dari sisi desain, tapi juga dari pemilihan bahan yang menunjang fungsionalitas dan estetika.
Di pasar ekspor, Chitose tetap memprioritaskan Jepang sebagai pasar utama, disusul Malaysia. Menurut manajemen, kondisi geopolitik justru memberi peluang baru bagi Chitose.
“Kita sudah dapat perjanjian tambahan dari pihak luar, mereka mulai memindahkan pesanan produk ke kami. Ini jadi peluang yang harus kami manfaatkan,” ungkap Susanto.
Baca Juga:Eksekusi Lahan di Desa Tenjolaya Dibatalkan, Warga Diminta Kembali ke RumahTolak Eksekusi Tanah, Ribuan Warga Tenjolaya Geruduk Kantor Desa
Walau tidak ikut serta dalam pameran ekspor besar, strategi penjajakan langsung dengan calon pembeli tetap rutin dilakukan.
“Penjualan neto kami capai Rp461 miliar, melebihi target Rp450 miliar dan naik tipis dari Rp456.9 miliar di 2023. Tapi yang lebih membanggakan, laba sebelum pajak melonjak 47 persen dari Rp16 miliar jadi Rp23 miliar, bahkan melampaui target sebesar 176 persen,” ujarnya.
Adapun laba tahun berjalan naik tajam 208,12 persen, dari Rp6 miliar di 2023 menjadi Rp18 miliar pada 2024.
“Penjualan memang tidak melonjak drastis, tapi laba naik signifikan karena efisiensi operasional dan inovasi yang kami lakukan,” kata Nurwulan.
Sejak berdiri pada 1978 di Cimahi, Chitose terus berkomitmen mendukung produk dalam negeri. Di tahun 2025, perusahaan akan lebih banyak mengembangkan produk modern untuk sektor rumah sakit dan pendidikan, yang diperkirakan akan menjadi tren kebutuhan pasar.
“Kami sudah siapkan semuanya, mulai dari pengembangan desain, bahan, hingga penetrasi ke pasar ekspor lewat platform terbaru kami di www.chitose.id,” ungkap Direktur PT Chitose Internasional Tbk, Ade Arifin. (Mong)
