“Saya senang karena sekarang saya tahu tanda-tanda bencana seperti apa,” ujarnya.
Dengan adanya sosialisasi mitigasi bencana pertama bagi difabel ini, Rohayati berharap Pemerintah Kota Cimahi dapat memberikan kemudahan lebih banyak bagi penyandang disabilitas dalam menghadapi situasi darurat.
“Saya ingin pemerintah lebih memperhatikan kami, khususnya warga difabel, dalam menyediakan sarana mitigasi bencana. Bagi kami tunarungu, sirine atau teriakan peringatan tidak bisa terdengar,” harapnya.
Baca Juga:Modus Jadi Dukun Supranatural, Pria Asal Pangalengan Tega Lakukan IniKLH Akui Pengolahan Sampah di Indonesia Kurang Tertata dengan Baik
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Cimahi, Fithriandy Kurniawan, menyampaikan bahwa pihaknya menerima respons positif dari peserta selama sosialisasi berlangsung.
“Banyak di antara mereka yang merasa lebih siap dan memiliki pengetahuan lebih tentang cara menghadapi bencana,” ujar Fithriandy.
Ia menilai semangat peserta dalam memahami materi mitigasi sangat tinggi, bahkan mereka aktif mempraktikkan langkah-langkah penyelamatan yang diajarkan dalam pelatihan.
“Salah satu hal yang paling mengesankan adalah antusiasme mereka. Ini menunjukkan bahwa informasi seperti ini memang sangat dibutuhkan,” tambahnya.
Ke depan, BPBD Cimahi berencana memperluas sosialisasi mitigasi bencana untuk kelompok disabilitas lainnya, seperti tunanetra dan penyandang disabilitas fisik.
“Setiap kelompok akan mendapatkan pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka, seperti metode braille untuk tunanetra atau komunikasi berbasis visual untuk tunarungu,” tutupnya. (Mong)
