JABAR EKSPRES – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung tersebut gencarkan mengantisipasi potensi inflasi pangan, termasuk gangguan rantai pasok dengan memperkuat kerja sama dengan daerah penghasil. Inflasi yang terjadi ditenggarai akibat cuaca ekstrem.
Kepala DKPP Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar, mengatakan sekitar 94 persen kebutuhan pangan di Kota Bandung dipasok dari luar daerah. Karena itu, menurutnya, distribusi menjadi faktor utama dalam stabilitas harga.
“Kami sedang memperkuat kerja sama dengan daerah surplus untuk memastikan pasokan tetap lancar,” kata Gin Gin saat diwawancarai Jabar Ekspres, Sabtu (8/2).
Baca Juga:Wujud Nyata Sukseskan Siswa Berkiprah di Luar Negeri, SMA Parawisata Telkom Deklarasikan Sekolah Go InternationalPerubahan PPDB Menjadi SPMB, Ini Respons Anggota V DPRD Jabar
Selain kerja sama dengan daerah penghasil, DKPP juga berupaya memperkuat cadangan pangan daerah. “Ketahanan pangan bukan hanya soal produksi, tapi juga distribusi dan jumlah stok. Kami memastikan tidak hanya beras yang tersedia, tetapi juga komoditas lain,” ujarnya.
Sementara itu di tingkat lokal, DKPP mendorong pemanfaatan lahan pertanian yang tersisa, termasuk 1.007 hektare sawah yang masih berpotensi digarap. Lalu pihaknya juga mengembangkan pertanian urban di permukiman.
“Targetnya, minimal satu RW memiliki satu komunitas pertanian yang berkelanjutan,” jelas Gin Gin.
Upaya ini, kata dia, mendapat dukungan dari pemerintah kelurahan yang membantu membangun ekosistem ketahanan pangan berbasis komunitas.
“Dengan begitu, warga tidak hanya mengandalkan pasokan dari luar, tapi juga bisa memenuhi kebutuhan pangan dari lingkungannya sendiri,” tuturnya.
Menurut Gin Gin, strategi ini diharapkan dapat mengurangi dampak kenaikan harga akibat faktor eksternal, termasuk cuaca ekstrem yang berpengaruh pada hasil panen.
“Kami ingin memastikan bahwa warga Kota Bandung tetap memiliki akses pangan yang cukup dan terjangkau, terutama saat harga bahan pokok bergejolak,” pungkasnya.
