Ketika Penyandang Disabilitas hingga Pedagang Harus Bertarung Demi Satu Tabung Gas

Warga Lansia yang Ikut Mengantre Gas LPG 3 Kg di Salah Satu Pangkalan, Jalan Terusan Kota Cimahi (Mong / Jabar Ekspres)
Warga Lansia yang Ikut Mengantre Gas LPG 3 Kg di Salah Satu Pangkalan, Jalan Terusan Kota Cimahi (Mong / Jabar Ekspres)
0 Komentar

Bagi warga difabel seperti dirinya, Restu berharap pemerintah tidak semakin mempersulit keadaan. “Sudah susah, jangan dibuat makin susah,” ujarnya.

Selain itu, Restu juga menilai bahwa keputusan pemerintah untuk mengizinkan kembali penjualan gas LPG di warung sebaiknya diteruskan, meski implementasinya perlu diperbaiki.

“Kalau keputusan sudah dikeluarkan, lanjutkan saja. Menurut saya ini bagus, tapi sayangnya kurang dipersiapkan dengan matang,” tandasnya.

Pedagang Kecil dan Ibu Rumah Tangga Merasa Kesulitan

Baca Juga:Pengecer LPG 3 Kg Boleh Berdagang Kembali, Wamen ESDM: Warung Harus jadi Sub PangkalanDisinggung KDM, Pj Gubernur Jelaskan Masjid Al Jabbar Dibangun Pakai Utang PEN

Tak hanya penyandang disabilitas, pedagang kecil dan ibu rumah tangga di Cimahi juga merasakan dampak sulitnya mendapatkan gas LPG.

Wiwi Supartini (51), warga Cimahi, bahkan harus mencari gas hingga ke Cipatik, Kabupaten Bandung Barat, karena stok di pangkalan dekat rumahnya habis.

“Harapan saya, semuanya kembali normal. Jangan dipersulit,” katanya.

Senada dengan Wiwi, Umar (37), seorang pedagang di Jalan Pesantren, mengaku antrean panjang dan kelangkaan gas sangat berdampak pada usahanya.

“Orang kaya juga ikut antre gas melon, jadinya kurang tepat sasaran,” kata Umar yang sudah antre sejak pukul 09.00 pagi.

Setelah hampir setengah jam menunggu, ia tetap tidak mendapatkan gas karena stok habis.

“Kalau sudah antre lama dan kehabisan, saya harus cari lagi ke tempat lain,” keluhnya.

Hartini (48), pedagang nasi kuning di Cibabat, juga mengalami kesulitan. Ia harus mengantre sejak pagi, padahal harus segera memasak untuk dagangannya.

Baca Juga:Tanggapi Keluhan Warga Soal Kebijakan LPG 3 Kg, Wamen ESDM: Ada Penyesuaian9.947 Kasus TBC Hantui Kota Bogor di Awal Tahun, Ini Tanggapan Pemkot!

“Saya beli gas dua hari sekali. Gas harus terus menyala untuk masak dan menghangatkan makanan,” ujarnya.

Di akhir pekannya yang sibuk, Hartini bahkan harus bangun sejak subuh untuk berburu gas.

“Saya jual nasi kuning, jadi kalau gas habis sejak pagi, saya harus pergi dulu buat beli gas,” katanya.

Karena tidak bisa menggunakan kendaraan, ia rela berjalan kaki ke pangkalan di Jalan Pesantren.

0 Komentar