Adiknya Jadi Korban Pembacokan, Ami Warga Kabupaten Bandung Cerita Perawatannya Tak Tercover BPJS

Ami Saepudin bersama Kapolresta Bandung Kombes Pol Aldi Subartono saat video call dengan Bupati Bandung Dadang Supriatna pada Jumat Curhat yang dilaksanakan di Katapang, Kabupaten Bandung, Jumat (24/1). Foto Agi
Ami Saepudin bersama Kapolresta Bandung Kombes Pol Aldi Subartono saat video call dengan Bupati Bandung Dadang Supriatna pada Jumat Curhat yang dilaksanakan di Katapang, Kabupaten Bandung, Jumat (24/1). Foto Agi
0 Komentar

JABAR EKSPRES  – Kisah pilu dialami oleh Ami Saepudin, warga Kampung Kiaraeunyeuh, Desa Banyusari, Kecamatan Katapang, Kabupaten Bandung pada acara Jumat Curhat yang digelar Polresta Bandung di aula Kecamatan Katapang, Jumat (24/1/2025).

Dirinya mengungkapkan dihadapan Kapolresta Bandung Kombes Pol Aldi Subartono jika adiknya pernah menjadi korban pembacokan enam bulan lalu pada tahun 2024.

Akibat pembacokan ini adiknya harus dioperasi karena mengalami luka di bagian kepala dan tangan.

Baca Juga:Kominfo Perkenalkan SAMAN: Solusi Baru untuk Lindungi Masyarakat dari Konten Ilegal di Dunia DigitalSusun 48 Program Prioritas di Musrenbang 2025, Kantor Pemerintah Baru di Bogor Timur Masih Jadi Cita-Cita

“Saya punya pengalaman enam bulan ke belakang waktu itu terjadi kekerasan tindak pidana kepada adik saya yang dibacok hampir mati. Korban kehabisan darah dan harus mengganti darah sampai 42 labu,” ujarnya.

“Tiga jarinya sekarang jadi permanen ngga bisa digunakan. Nah kepala juga luka parah beberapa jahitan gitu lah, sampai batok kepala itu kelihatan,” sambungnya.

Tak sampai disitu, Ami yang berprofesi sebagai penghulu nikah ini kebingungan lantaran harus mengumpulkan uang sebesar Rp 94 juta, karena pihak rumah sakit tidak bisa mengcover memakain BPJS karena bukan kecelakaan.

“Bahkan saya membiayai pengobatan adik saya sampai Rp 94 juta. Saya ingat pada waktu itu mau operasi, harus ada uang segitu. Katanya gak bisa pakai BPJS, karena itu bukan kecelakaan,” tambahnya.

“Jadi saya mohon ke bapak, kalau misalnya urus-urus kaya gini ke orang miskin bisa dibantu pakai BPJS. Saya jam 2 malam nyari uang buat operasi, kalau nggak tangannya buntung,” lanjutnya.

Lantaran tidak memiliki uang, Ami pun terpaksa menggadaikan rumahnya demi menyelamatkan nyawa adiknya.

“Akhirnya saya memutuskan menggadaikan rumah saya untuk operasi. Sampai sekarang belum tertebus juga uangnya. Tapi saya dan keluarga sedikit-sedikit bisa mencicil uang gadai tersebut,” ungkapnya.

Baca Juga:Menyambut Tahun Ular Kayu: Sebuah Perayaan Penuh Hikmah di Vihara Dharma RamsiDPRD Banjar Gelar Rapat Paripurna PAW Pengganti Sudarsono

Selama enam bulan tersebut, Ami juga sempat merasakan kekecewaan dan putus asa lantaran tidak ada perkembangan dari kasusnya.

0 Komentar