Sementara itu, kinerja BPR dan BPRS juga menunjukkan tren positif. Per 31 Agustus 2024, kredit yang disalurkan BPR Konvensional mencapai Rp17,59 triliun, meningkat Rp0,95 triliun (5,74 persen yoy). Kualitas kredit BPR Konvensional sedikit membaik yang tercermin dari penurunan NPL gross dari 13,53 persen di 31 Agustus 2023 menjadi sebesar 12,99 persen posisi 31 Agustus 2024.
Realisasi pembiayaan BPR Syariah per 31 Agustus 2024 tumbuh sebesar Rp0,51 triliun (9,45 persen yoy) dari sebesar Rp5,39 triliun di 31 Agustus 2023 menjadi Rp5,91 triliun posisi 31 Agustus 2024. Kualitas pembiayaan BPRS memburuk yang tercermin dari rasio NPF dari 5,9 persen di 31 Agustus 2023 menjadi 9,57 persen di 31 Agustus 2024. Namun demikian, market share pembiayaan BPRS dibanding total kredit BPR dan BPRS di Jawa Barat terus mengalami peningkatan dalam 3 (tiga) tahun terakhir. Pada tahun 2021 tercatat berada di 21,67 persen, meningkat menjadi 25,45 persen (Desember 2023) dan menurun menjadi 25,14 persen per 31 Agustus 2024.
Total penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) Nasional per 31 Agustus 2024 mencapai Rp 196,61 triliun, sementara KUR di Provinsi Jawa Barat mencapai Rp19,36 triliun dan menjadi provinsi penerima KUR terbesar ketiga setelah Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi Jawa Timur atau memiliki porsi 9,90 persen dibandingkan total penyaluran KUR Nasional. Tercatat sebanyak 329.351 pelaku usaha di Provinsi Jawa Barat telah memanfaatkan pembiayaan KUR dengan nilai outstanding saat ini mencapai Rp17,51 triliun. Berdasarkan skema pembiayaan KUR, sektor Mikro memiliki porsi paling besar yaitu mencapai Rp12,21 triliun dilanjutkan sektor Kecil sebesar Rp7,03 triliun.
Baca Juga:Paguyuban Motor Honda Bekasi Rayakan Anniversary ke-15Bansos PKH dan BPNT Cair Lagi Oktober 2024, Segini Nominal Bantuan yang Akan Diterima
Kinerja Sektor Pasar Modal
Sampai dengan 31 Agustus 2024, total Single Investor Identification (SID) di Jabar tercatat sebanyak 2.848.704 SID, atau tumbuh 10,04 persen dibanding periode tahun sebelumnya 2.588.690 SID. Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi dengan jumlah SID terbanyak atau mencapai 21 persen secara Nasional. Hal ini menunjukkan antusiasme warga untuk mengakses produk keuangan Pasar Modal, tercermin total transaksi saham dari Provinsi Jawa Barat mencapai Rp24,58 triliun, terbesar kedua setelah Provinsi DKI Jakarta. Sementara jumlah investor pasar modal terkait kepemilikan Surat Berharga Negara di Provinsi Jawa Barat mencapai 221.322 investor, terbesar kedua setelah Provinsi DKI Jakarta. Saat ini sudah ada 81 perusahaan dari Provinsi Jawa Barat yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, dari sektor Perbankan, Telekomunikasi, Properti dan Industri Makanan & Minuman.
