Supandi berharap pemerintah bisa memperbaiki sistem ini, khususnya dalam hal ketepatan sasaran dan ketegasan pelaksanaan di lapangan.
Begitupun tanggapan Rima (38), seorang makeup artist (MUA) yakni warga Bandung yang memiliki kendaraan pribadi.
“Menurut saya, penerapan QR code untuk pengisian BBM subsidi ini bukan hal yang mendadak, karena sudah dihimbau dari tahun lalu,” ujar Rima.
Namun, Dia menambahkan, mungkin sebagian orang merasa terkejut karena baru merasakan dampaknya sekarang. Rima mengakui bahwa penerapan aplikasi MyPertamina yang menjadi bagian dari sistem ini terkadang menghadapi kendala teknis.
“Untuk aplikasi MyPertamina sendiri terkadang ada kendala, yaitu server antara aplikasi kita dengan pihak Pertaminanya lambat, jadi bikin antrian di belakang jadi panjang,” jelasnya.
Baca Juga:Pohon Beringin Raksasa di Pulo Majeti Tumbang, Benarkah Ada Kaitannya dengan Pilkada Banjar?Pasar Kreatif Jawa Barat Bakal Ditambah Sportainment
Kondisi ini lebih sering terjadi di daerah-daerah yang sulit sinyal, meskipun di Kota Bandung penerapannya relatif lancar. Namun, yang menjadi perhatian utama Rima adalah ketidakefisienan dalam pelaksanaan sistem QR code ini di SPBU.
Menurutnya, meskipun konsumen sudah siap dengan QR code, pihak SPBU masih menerapkan sistem input manual yang memakan waktu cukup lama.
“Istilahnya, kita sudah daftar QR code berarti kita konsumen sudah siap, tapi kenapa SPBU-nya tidak menggunakan sistem scan QR?” ungkapnya dengan nada heran.
“Setiap kendaraan minimal tiga menit untuk input, ini memperlambat. Padahal, kalau mereka menggunakan scanner, prosesnya akan lebih cepat,” tambahnya.
Menurut Rima, ketidakseimbangan ini membuat sistem QR code yang diterapkan saat ini terasa tidak efektif. (mg)
