Telegram juga merupakan salah satu dari sedikit platform yang memungkinkan warga Rusia mengakses informasi tanpa filter terkait konflik tersebut, terutama setelah Kremlin memperketat kontrol media pasca invasi besar-besaran.
Namun, enkripsi yang dianggap tidak dapat dipecahkan ini telah menjadikan Telegram sebagai alat propaganda bagi kelompok-kelompok radikal, baik di Rusia maupun di seluruh dunia.
Media Eropa Tengah, VSquare, melaporkan bahwa Telegram kini menjadi alat utama propaganda bagi kelompok ekstremis, termasuk sayap kiri dan kanan radikal di Rusia, QAnon di AS, serta penganut teori konspirasi lainnya.
Baca Juga:Tanggapan Polri Terkait Polwan Viral Marahi Orang Sedang MakanPDRB Jabar Sektor Kelautan dan Perikanan Tahun 2025 Ditargetkan Rp26 Triliun
Platform ini bahkan disebut-sebut sebagai ekosistem yang ideal untuk proses radikalisasi.
Pavel Durov, yang lahir di Rusia, mendirikan Telegram setelah meninggalkan negaranya pada tahun 2014 karena menolak memenuhi permintaan pemerintah Rusia untuk menutup komunitas oposisi di platform media sosial VKontakte (VK) miliknya.
Di UEA, Telegram menghadapi sedikit tekanan terkait moderasi konten dibandingkan dengan di negara-negara Barat yang semakin memperketat pengawasan terhadap ujaran kebencian, disinformasi, serta penyebaran konten ilegal termasuk gambar pelecehan anak.
Namun, dengan ditangkap-nya CEO ini, masa depan Telegram dan tantangan yang dihadapinya akan menjadi sorotan dunia.
