Denis berencana berjualan hingga 16 Agustus, sebelum akhirnya kembali ke Garut. Ia berharap agar peringatan kemerdekaan tahun ini membawa berkah dan kemudahan bagi pekerjaannya.
“Harapan saya menyambut kemerdekaan tahun ini, semoga dapat dimudahkan segala pekerjaan, khususnya bagi kami para pedagang seperti ini,” harapnya.
Kisah perjuangan Denis bukanlah satu-satunya. Syafeul, pedagang asal Limbangan, Kabupaten Garut, juga hadir di Cimahi dengan tujuan yang sama menambah penghasilan demi keluarganya.
Baca Juga:Kasus HIV di Usia Pelajar Masih Tinggi, Dinkes Jabar Sebut PP 28 Tentang Penyediaan Alat Kontrasepsi jadi Andalan untuk PencegahanPAN Jodohkan Dedie Rachim dengan Jenal Mutaqin di Pilkada Kota Bogor
Syafeul berjualan bendera di sekitar Jalan Baros, dengan harapan bisa membawa pulang uang untuk istri dan dua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
“Saya ke Cimahi sengaja nambah-nambah penghasilan buat istri sama anak di Garut. Anak saya ada dua, yang pertama kelas 5, yang kedua masih kelas 1,” ujar Syafeul.
Dengan modal nekat, Syafeul berangkat dari Garut menggunakan bis kota, tiba di Cimahi pada akhir Juli. Ia memilih Cimahi karena menganggap peluang jualan bendera lebih baik di sini dibandingkan di Garut.
“Mau gimana lagi, istri cuma jualan makanan anak-anak, biasanya anak SD tuh yang beli. Ya mau nggak mau, saya harus merantau lah istilahnya,” kata pria berusia 45 tahun tersebut.
Meski harus jauh dari keluarga, usaha Syafeul tidak sia-sia. Ia bisa meraup omzet hingga Rp1 juta per hari, tergantung pada ukuran bendera yang ia jual dan jumlah pembeli.
Harga bendera yang ia tawarkan sama dengan Denis, mulai dari Rp25 ribu hingga Rp80 ribu untuk ukuran besar.
“Ya sehari bisa Rp. 1 juta kalau rame tapi kalau sepi ya paling Rp400-Rp. 500-an lah. Itu juga tergantung ukuran benderanya,” kata Syaeful.
Baca Juga:Kontroversi Penyediaan Alat Kontrasepsi bagi Pelajar, Begini Penjelasan Dinkes JabarPergantian Pemain: Ridwan Kamil Maju di Pilgub Jakarta, Jusuf Hamka Ditugaskan ke Jabar
Sama seperti Denis, Syafeul juga berencana pulang ke Garut pada tanggal 16 Agustus, membawa harapan dan hasil jerih payahnya untuk keluarganya yang menanti di rumah.
“Ya mudah-mudahan bisa dapat hasil yang cukup buat pulang ke rumah,” tandas Syaeful. (Mong)
