Di dunia inilah predikat lain sebagai demonstran melekat pada dirinya hingga munculah nama panggilan Komeng yang kala itu identik dengan rambut gondrongnya dan panggilan itu melekat dan populer hingga kini.
Malang melintang di dunia aktivis mengantarkannya untuk berkiprah dan berkontribusi membangun kampung halaman tercintanya.
Turut serta bergabung dengan tokoh-tokoh di Kewedanaan Banjar saat itu dalam aktivitas pemekaran/ pemisahan dari kabupaten induk Kabupaten Ciamis menjadi daerah otonom. Namanya tercatat sebagai salah satu perintis dan pendiri daerah otonom, Kota Banjar, Jawa Barat, dalam sebuah wadah FPSKB (Forum Peningkatan Status Kotif Banjar menjadi Daerah Otonom).
Baca Juga:Cegah Potensi Naiknya Angka Pengangguran, Disnaker Cimahi Minta Warga Tak Ajak Sanak Saudara Setelah Mudik Lebaran 2024Arus Balik di Terminal Leuwipanjang, Trayek Menuju Jabodetabek Masih Terisi Penuh
Ia menjadi sosok yang memberikan kontribusi signifikan dalam perjalanan di sekretariat sebagai wakil Sekjen FPSKB.
Sulyanati merupakan seorang profesional muda yang berprofesi sebagai Notaris/PPAT di Kabupaten Pangandaran.
la juga menggeluti beberapa usaha di bidang pariwisata setelah sebelumnya, pernah menjabat komisioner KPUD Kota Banjar selama dua periode dari tahun 2003 sd 2013.
Untuk karir profesional lainnya yang ia geluti saat itu diantaranya menjadi konsultan untuk beberapa pekerjaan di kementerian sebagai Asisten Tenaga Ahli Hukum di Kemendagri dan BPN.
Di Kabupaten Pangandaran, dirinya bersama tokoh-tokoh disana turut serta aktif menggagas berdirinya perguruan tinggi, sebagai Ketua BPH pendirian Perguruan Tinggi Muhammadiyah..
“Dengan rekam jejak di dunia politik yang selalu berbaur dengan birokrasi, dan kapasitas sebagai profesional muda serta akademisi, saya memiliki agenda kedepan untuk semakin berkontribusi untuk Kota Banjar tercinta ini,” kata Sulyanati. (CEP)
