JABAR EKSPRES – Bayangkan satu titik ledakan dapat meruntuhkan semua yang telah Anda bangun dalam sekejap. Itulah kekuatan kemarahan. Namun bagaimana jika ada kunci tersembunyi untuk mengendalikannya?
Universitas Harvard. Elizabeth Phelps dan timnya mempelajari bagaimana kemarahan mempengaruhi otak kita (Phelps, E.A. et al., 2006, “Emotions and Cognition: Insights from Studies of the Human Amygdala”). Mereka menemukan bahwa amigdala, bagian otak yang mengendalikan emosi, menjadi sangat aktif saat Anda marah. Ini menimbulkan pertanyaan. Bisakah kita membuat otak bereaksi berbeda?
Mari kita beralih ke Universitas California. Profesor Matthew Lieberman telah menunjukkan bahwa mengungkapkan perasaan marah secara verbal dapat mengurangi aktivitas di amigdala (Lieberman, M.D., et al., 2007, “Putting Feelings to Words”). Dengan kata lain, verbalisasi itu penting. Tapi apakah ada yang lebih dari sekedar berbicara?
Baca Juga:10 Kunci Meraih Kesuksesan dengan Memanfaatkan Waktu Sebaik MungkinTeknik Psikologi: Cara Mengelola Harapan dengan Baik
Namun penemuan paling mengejutkan datang dari penelitian kecil di Universitas Tokyo. Para peneliti telah menemukan bahwa kemarahan, yang sering kali dianggap merusak, sebenarnya dapat meningkatkan kreativitas dan pemecahan masalah dalam kondisi tertentu (Kasai, K., dkk., 2008 , “Kemarahan dan Peningkatan Kreativitas”).
Ada perkembangan yang tidak terduga di sini. Emosi yang kita anggap destruktif bisa jadi ternyata konstruktif.
Dalam perjalanan penemuan ini, kita belajar bahwa kemarahan bukan sekedar ledakan emosi yang harus ditekan.
