Kurangi Sampah Organik, Pemkot Bandung Dalami Efektivitas Magot

Kurangi Sampah Organik, Pemkot Bandung Dalami Efektivitas Magot
Kandang indukan larva BSF yang ada di Kelurahan Nyengseret, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung (Sadam Husen Soleh Ramdhani/Jabar Ekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES, BANDUNG  – Di tengah masa kedaruratan, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus berupaya dalam menekan angka timbunan sampah, melalui inisiasi ragam program guna mengatasi permasalahan tersebut.

Salah satunya yakni magotisasi atau pengembangbiakan larva lalat black soldier fly (lalat BSF) yang kini sudah disebar di 151 kelurahan. Pemkot mengklaim bahwa hal tersebut mampu mengarungi jenis sampah organik yang ada di Kota Bandung.

“Ketika adanya darurat sampah, Pemerintah Kota Bandung memberikan fasilitas berupa anggaran untuk budidaya magot dalam jumlah besar dengan tujuan mengolah sampah organik,” kata Fahmi, Jumat (22/12).

Baca Juga:Liburan Tahun Baru di Cigwa, Nikmati Segudang Promo Menarik!Jelang Nataru, Pj Wali Kota Banjar Ida Wahida Hidayati Sidak Pasar 

Namun, menurutnya, efektivitas penggunaan magot dalam mengurangi jenis sampah organik masih terkendala hal lain. Masalah tersebut yakni sampah yang harus terlebih dahulu melalui proses fermentasi.

“Tapi seiring dengan proses magotisasi, kan magot ini harus yang empuk jadi sampah organik nya, jadi harus difermentasikan dulu. Karena kalo langsung itu prosesnya cukup lama dan kurang efektif untuk magot,” katanya

Sehingga, program yang dikembangkan oleh Kelurahan Nyengseret perihal jemput bola sampah kepada masyarakat yang per harinya terkumpul sebanyak 100 kilogram, tidak bisa diselesaikan lewat program magotisasi.

Maka dari itu, pihaknya bekerja sama dengan TPS3R yang berada di Kelurahan Panjunan. Hal tersebut guna melakukan proses pemilahan sampah jenis organik yang bakal dijadikan kompos.

“Dari situ sampah organiknya awalnya itu kita kerja sama dengan TPS3R karena dulu magotnya belum sebanyak ini. Tapi sampai sekarang juga masih bekerja sama dengan TPS3R Panjunan, karena pengolahan sampah organik di kita masih terbatas,” lanjutnya.

Dengan hal tersebut, diakui Fahmi, sampah jenis organik yang ada di Kelurahan Nyengseret kini mulai mengalami pengurangan. Hal tersebut dampak dari sosialisasi yang terus dilakukan oleh aparat kepada masyarakat, terkait pemilah sampah secara mandiri.

0 Komentar