Banjir Kota Bandung, Kolam Retensi Bukan Solusi?

BANDUNG, JABAR EKSPRES – Pembangunan Kolam Retensi yang gencar dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung ditengah misi menanggulangi banjir di berbagai wilayah. Nyatanya belum jadi jawaban konkrit dalam menyelesaikan permasalahan tersebut.

Awal Bulan Desember, kanal-kanal memberitakan soal berbagai wilayah yang dilanda banjir akibat hujan dengan intensitas tinggi. Gedebage, Kopo, Cibaduyut, Astanaanyar, Citarip merupakan wilayah dengan genangan paling tinggi di Kota Bandung.

Padahal, Pemkot Bandung masif membangunan kolam retensi di kawasan tersebut. Rumah Pompa (Rupom) pun telah disediakan sebagai cara mempercepat penyurutan genangan.

Jabar Ekspres coba mencari jawaban soal mengapa kolam retensi belum mampu menyelesaikan permasalahan banjir yang ada di Kota Bandung.

Peneliti Universitas Winaya Mukti, Bima Lutfi Fuad mengungkapkan, dirinya sempat melakukan kajian terhadap kapasitas penampungan Kolam Retensi Sarimas yang berada di wilayah Sukamiskin, Kota Bandung.

Menurutnya, dengan debit maksimum limpasan air di Kolam Retensi Sarimas yang mencapai 20,52 meter kubik, maka kapasitas aliran keluar (Outflow) harus dibarengi dengan daya dukung yang memadai.

“Waktu kita kesana, debit maksimum limpasan air di Kolam Retensi Sarimas itu mencapai 20,52 meter kubik. Jika mengacu pada penulusuran air, tampungan maksimumnya hanya 72.167,32 meter kubik,” terangnya kepada Jabar Ekspres.

BACA JUGA: Antisipasi Banjir Gedebage, Jalan Rumah Sakit Bakal Dijadikan Kolam Retensi?

“Jadi, kalau Kota Bandung membuat volume tampungan kolamnya 537.035 meter kubik, penelusuran air masih nyisain volume tampungan air cukup besar. Itu karena kapasitas aliran keluar masih belum memadai,” lanjutnya.

Hal itu menyebabkan genangan masih kerap terjadi. Menurutnya, perlu daya dukung memadai terkait kapasitas aliran air yakni Rupom agar penelusuran air, volume tampungan air, dan aliran keluarnya air berjalan seimbang.

“Jadi saran saya, disitu bisa ditambah kapasitas aliran air keluar di Kolam Retensi Sarimas. Sarannya ya pake pompa,” ungkapnya.

Disisi lain, seorang yang masuk ke dalam Kelompok Keilmuan Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB), Heri Andreas mengungkapkan, muka tanah di Kota Bandung rata-rata turun 1 sampai 20 centimeter per tahun.

Hal ini yang kemudian menyebabkan banjir kerap terjadi di berbagai wilayah Kota Bandung. Bahkan menurutnya, Bandung bisa tenggelam apabila berada di daerah dekat pantai.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan