Dorong Penggunaan dan Pengembangan AI yang Bertanggung Jawab Melalui Tindakan Kebijakan Berkelanjutan di Indonesia

Dorong Penggunaan dan Pengembangan AI yang Bertanggung Jawab Melalui Tindakan Kebijakan Berkelanjutan di Indonesia
Dorong Penggunaan dan Pengembangan AI yang Bertanggung Jawab Melalui Tindakan Kebijakan Berkelanjutan di Indonesia. (Dok. Istimewa)
0 Komentar

JABAR EKSPRES, BANDUNG– Teknologi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) telah menjadi kekuatan utama yang mendorong perubahan digital di seluruh dunia. AI membuka peluang-peluang inovatif untuk mengatasi tantangan pembangunan manusia.

GIZ Indonesia atas nama Kementerian Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan Jerman (BMZ) bersama dengan Kementerian PPN/Bappenas Republik Indonesia, menggelar kegiatan bertajuk ‘Fair Forward-Artificial Intelligence for All’ di Museum Asia Afrika, pada 30 November – 1 Desember 2023.

Kegiatan ini merupakan rangkaian dalam membangun jaringan Asia Afrika untuk AI Policy Makers Forum dan Pelatihan Peningkatan Kapasitas di Bidang Teknologi AI yang beretika, ditujukan untuk para Pemangku Kebijakan.

Baca Juga:Sematkan 34 Baret, Kepala BNN RI: Simbol Peran Melawan Bandar-Bandar NarkotikaWali Kota Banjar: Pemenang Open Bidding DPMPTS Tidak Bisa Diganggu Gugat

Tujuan dari pelatihan ini untuk mendorong penggunaan dan pengembangan AI yang bertanggung jawab melalui tindakan kebijakan yang berkelanjutan, dan disesuaikan dengan keadaan lokal di Indonesia. Kemudian mengembangkan kebijakan yang efektif dan selaras degan praktik AI yang etis dan bertanggung jawab.

“Dengan adanya forum ini menurut kami ini merupakan inisiatif untuk membentuk ekosistem AI yang bertanggung jawab. Dalam AI ini ada berbagai macam isu, seperti isu transparansi dan akuntabilitas,” ujar Perencana Ahli Pertama, Direktorat Ketenagalistrikan, Telekomunikasi dan Informatika Bappenas, Andreas Bondan Satriadi, Kamis (30/11).

“Kolaborasi lintas kementerian dan lembaga berikut pemerintahan daerah diharapkan untuk dapat membangun strategi kebijakan AI beretika untuk pengembangan inovasi lokal,” imbuhnya.

Kurikulum dari pelatihan, diadaptasi dari Buku Panduan Kecerdasan Artifisial dari GIZ yang sudah disesuaikan dengan konteks Indonesia termasuk di dalamnya konten yang berorientasi pada masa depan, aplikasi yang luas dalam berbagai domain kebijakan, pertimbangan kebijakan dan etika, mendekatkan Indonesia pada standar global, keberagaman latar belakang peserta, serta tingkat pengetahuan dasar peserta mengenai penggunaan teknologi atau data.

“Saat kita mengejar inovasi dalam kecerdasan buatan, kita juga memiliki tanggung jawab etis untuk memastikan bahwa perkembangan ini menghormati nilai-nilai kemanusiaan, keadilan dan privasi,” ujar Dr Ayu Purwarianti, co-founder dari Prosa.ai. Ayu merupakan salah satu pengisi materi dalam pelatihan sekaligus mitra dari Fair Forward, dalam pengembangan AI terkait inovasi bahasa daerah.

0 Komentar