JABAR EKSPRES – Hamparan kebun sayur dan padi mengelilingi tembok Tjieboenar yang hingga kini masih kokoh. Tepat di belakang dinding itu, terlihat cerobong asap yang masih ajeg hingga kini.
“Pekerja di pabrik tersebut ada sekira 10.000 orang, sempat untuk fokus produksi pada saat itu membuat pakaian perang tentara Jepang,” ungkap Irman Firmansyah, penggiat sejarah Sukabumi, kepada Jabar Ekspres pada Rabu (4/10/2023).
Kemudian, Ia juga menerangkan selain fokus produksi, pabrik itu diperuntukkan juga membuat pakaian perang tentara Jepang, serta sempat menyuplai kain untuk keperluan di Keraton Solo.
Baca Juga:LPKMA dan Lapas Sumedang Berdayakan Warga Binaan Produksi Gerobak DagangSampah Pasar Disorot, Sekda Kota Bandung Janjikan 3 Hari Selesai
Penulis buku sejarah “Soekaboemi: The Untold Story” itu juga memaparkan bahwa sekitar bulan Juli tahun 1947, saat kolonial Belanda masuk kembali ke Indonesia, mereka ingin menguasai pabrik-pabrik di Sukabumi, yang salah satunya adalah Tjieboenar.
BACA JUGA: Ruang Publik Mata Air Cikendi Kurang Terawat
“Untuk menghindari aset-aset digunakan kembali oleh Belanda, maka gudang pabrik dihancurkan beberapa. Pabrik salah satunya Tjieboenar, yang dibumihanguskan agar tidak bisa digunakan kembali,” ujarnya.
Ia juga menerangkan bahwa Tjiboenar pada masanya memiliki tiga cabang pabrik, salah satunya berada di daerah Jakarta.
“Pada masa jayanya, pabrik tekstil itu mempunyai tiga cabang. Pertama Tjiboenar I (Kadudampit), Tjiboenar II (Kota Sukabumi), Tjiboenar III (Jakarta, Jembatan Lima),” ungkapnya.
Setelah peristiwa bumihangus di Tjiboenar I itu, hingga kini pabrik tersebut tidak beroperasi. Hanya tersisa tembok yang berdiri kokoh serta cerobong asap. (Mg9)
