Tidak mengherankan jika setiap saat, handphone kita dibanjiri berbagai informasi, berita, foto atau video yang sangat beragam. Baik yang sifatnya dinas terkait pekerjaan, berita biasa ataupun hanya sekadar lelucon atau bahkan berita, gambar dan video hoaks yang bisa berimplikasi pada masalah hukum.
Disinilah platform dan mindset pikiran akan ‘bermain’, sehingga tidak sedikit yang terseret menjadi sebuah keyakinan dan kebenaran. Bahkan Joseph Goebbels menyatakan bahwa “kebohongan yang diceritakan satu kali adalah kebohongan, tetapi kebohongan yang diceritakan ribuan kali akan menjadi kebenaran“.
Fenomena Post-Truth pada awalnya dimanfaatkan untuk kepentingan politik, tetapi kemudian berkembang ke segala lini, isu, dan agenda.
Baik post truth maupun hoax, biasanya akan dibungkus dengan tajuk berita yang bombastis, abai terhadap data dan fakta, bahkan mungkin memakai data palsu yang tidak jelas kebenarannya.
Baca Juga:KILAS KEMARIN: 8.698 Kasus ISPA di Kota Depok Pada Balita hingga The Jak Rusuh saat Persija vs Persib ImbangRebranding Jalur, Safari Malam di Taman Safari Bogor Ditutup Sementara
Oleh karena itu, dalam konteks marketing pun telah terjadi pergeseran model, dari model AIDA ke model AISAS. Pola pemasaran konvensional model AIDA (attention, interes, desire, dan action) telah bertransformasi menjadi AISAS (attention, interes, search, action, dan share). Elemen ”search dan share” merupakan pembeda yang rawan dan bisa direkayasa ke arah pengelabuan dengan imbuhan tampilan kemewahan yang berlebihan dan pembingungan ke arah post-truth.
