Lebih dari 83.000 tahanan perang sekutu ditawan di Pulau Jawa. Tahanan Sekutu dan tahanan perang diperlakukan sangat kejam oleh militer Jepang, bahkan makanan dan obat-obatan untuk bertahan hidup tidak disediakan dengan lengkap.
Pola makan yang tidak cukup baik membuat mereka terkena berbagai macam masalah kesehatan dan kurangnya tenaga kesehatan seperti dokter membuat banyak di antara mereka yang harus meregang nyawa,
“…mereka mati bukan karena perang, melainkan karena kelaparan” (Misako Oyama, Perkumpulan Bantuan Korban Kejahatan Perang).
Menjadi “Penjahat” Perang
Baca Juga:Ini Waktu Terbaik Melihat Fenomena Langka Super Blue Moon 30-31 Agustus 2023Besok Mulai Puasa Ayyamul Bidh, Ini Jadwal Lengkap dan Bacaan Niatnya
Yang Chil Seong diberikan tugas untuk menjaga para tawanan Jepang di Cimahi, dan menjadi momen pertama kali ia bertemu dengan Lience Wenas, seorang pribumi yang kerap menjenguk keluarganya dalam tahanan, yang pada akhirnya menjadi istrinya (Jo, 2018:343-344).
Tak berselang lama dari masa pernikahannya, Jepang kemudian dinyatakan kalah oleh Sekutu pada 15 Agustus 1945, disusul dengan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.
Momen tersebut membuat pada pemuda Korea secara tidak langsung terbebaskan dari tawanan Jepang, namun di sisi lain, mereka dianggap sebagai “penjahat perang” di mata Sekutu.
Kedatangan kembali Sekutu ke Indonesia selain bermaksud untuk menduduki Indonesia kembali, juga untuk mencari para “penjahat perang”.
Tindakan tersebut sesuai dengan isi perjanjian Postdam yang berisi bahwa pihak yang kalah atau “penjahat perang” harus dihukum.
Pada saat itulah Yang Chil Seong beserta 9 orang rekannya melarikan diri.
Dengan situasi mendesak yang demikian dan kondisinya yang tidak bisa kembali ke Korea, Yang Chil Seong dan rekannya ditawan oleh Pasukan Pangeran Papak. Pada awalnya mereka akan dibunuh, namun Major Kosasih menghentikan itu.
Baca Juga:Ternyata Korban Penculikan 3 Oknum TNI Ada 2 Orang, Satu Berhasil Selamat Karena iniFoto Wajah 3 Oknum TNI Penculik Pemuda Aceh Dirilis Pomdan Jaya
Setelah sekian lama hidup berdampingan dengan pribumi, Yang Chil Seong bersimpati pada perjuangan rakyat Indonesia dan memutuskan untuk bergabung dalam Pasukan Pangeran Papak, pasukan gerilyawan di kota Garut (Jo, 2018:344).
Berjuang untuk Indonesia
Di bawah perintah Pasukan Pangeran Papak, Yang Chil Seong melakukan berbagai aksi penyerangan terhadap Sekutu.
Dikenal sebagai sosok yang cerdas dan gemar memberikan ide-ide cemerlang yang digunakan untuk strategi penyerangan, tentara pribumi memberikan nama panggilan Komarudin kepada Yang Chil Seong.
