Namun, Kring menambahkan bahwa kawah memiliki arti penting di permukaan Bulan.
“Proses pembentukan kawah membawa material dari kedalaman ke permukaan, di mana astronot dapat mengaksesnya,” tambahnya.
Ilmuwan planet di SETI Institute dan Mars Institute, Pascal Lee, juga mengungkapkan sebaran es dengan kandungan hidrogen yang tinggi dan tidak merata di Permukaan Sisi Gelap (PSR) Bulan.
Baca Juga:Begini Cara Dapat Uang dari Twitter setelah Berubah Menjadi XWarga Inggris Terinfeksi Bakteri Misterius usai Digigit Kucing Liar
“Beberapa PSR tampaknya memiliki sedikit kandungan hidrogen di dalamnya,” ujar Lee.
“Namun, ada juga daerah yang terkena sinar matahari yang masih menunjukkan tanda-tanda hidrogen di beberapa meter di atas regolit, yang merupakan lapisan atas Bulan terdiri dari debu, pecahan batu, dan material lainnya.” sambungnya.
Terkait hal ini, Lee menyebut bahwa masih terlalu awal untuk menganggap es di kutub Bulan sebagai sumber air bagi astronot, mengingat rumitnya masalah hak eksplorasi dan hukum luar angkasa.
Menurutnya, sumber daya baru di kutub Bulan hanya akan bermanfaat jika ekstraksi di lokasi tersebut lebih murah dan memiliki risiko yang lebih rendah di bandingkan dengan mengimpor dari tempat lain.
Meskipun demikian, proses ekstraksi 100 metrik ton air bersih dari kutub Bulan masih belum jelas kapan dapat terwujud. Biaya yang terlibat dalam proses ini mungkin juga lebih tinggi daripada mengirimkan air dari Bumi.
“Saya optimis mengenai masa depan eksplorasi Bulan, tetapi dengan jujur, saya pikir ini masih membutuhkan waktu yang sangat lama, jika memang terjadi. Sumber air terbesar yang tersedia masih berasal dari Bumi,” pungkas Lee.
