Lagu merupakan ungkapan Paul McCartney yang merasa terenyuh hatinya dalam menyaksikan perjuangan orang-orang kulit hitam di negara berjuluk Paman Sam itu.
Adapun Paul McCartney menulis lagu ini pada 1968. Di tahun tersebut, peristiwa politis sedang panas-panasnya hampir di seluruh dunia, termasuk di Amerika Serikat.
Tentunya Amerika Serikat merupakan negara yang memiliki sejarah yang sangat panjang.
Baca Juga:5 Uang Kuno yang Paling Dicari Kolektor, Ada yang Dibanderol Sebesar Rp100 Juta!Dapat Uang dari HP Lewat Aplikasi Jago, Ratusan Ribu Cepat Cair!
Ia merupakan negara yang mempunyai andil besar dalam membentuk dunia seperti sekarang ini.
Akan tetapi, Amerika Serikat tentu pula mempunyai sejarah kelam. Dalam hal ini, sejarah huru-hara politis isu rasisme Amerika Serikat.
Dalam suatu kesempatan konser solo akustiknya pada 2022 di Amerika Serikat, Dallas, partner John Lennon dalam menciptakan musik ini pernah menyinggung perihal lagu ‘Blackbird.
“Yang akan saya nyanyikan sekarang ditulis di era 60-an dimana sedang banyak masalah tentang hak-hak sipil terutama di daerah selatan Amerika. Saya tak tahu Anda tahu apa tidak, di Inggris terkadang kami memanggil gadis-gadis dengan ‘burung’. Saya menulis lagu ini berdasarkan itu,” ungkap Paul McCartney.
Ternyata orang-orang di Inggris mempunyai sapaan khusus bagi perempuan, yakni ‘bird’.
Adapun di Amerika sendiri, sapaan ‘bird’ itu sepadan dengan ‘chick’. Sebutan untuk perempuan di Amerika.
Dari fakta ini, kita bisa melihat bahwa lagu ini merujuk pada perjuangan perempuan kulit hitam di Amerika pada 1968 yang sedang berusaha merebut hak-haknya.*** (arp/bbs)
