oleh

Walking Tour Cerita Bandung: Napak Tilas, Nostalgia dan Romantisme Kota

Di samping terlahir ketika Tuhan sedang tersenyum, Bandung pun bertumbuh berkat sumbangsih para penghuninya. Bisa karena mereka yang sukarela merawat ingatan sejarahnya, maupun berkat kusir yang berteriak, “Bantuan cai, euy!”

Muhamad Nizar, Jabar Ekspres.

Terbentuk berdasarkan pengalaman pendirinya, Farhan Basyir yang senang berjalan-jalan dan menjelajahi sisi kota. Cerita Bandung muncul dengan kegiatan walking tour alias wisata jalan kakinya.

“Terus di kota dan negara lain itu sudah banyak sekali walking tour. Tapi di Bandung ini masih minim banget. Makanya idenya dari itu, jadi, (Farhan Basyir, red) pengen bikin walking tour di kota sendiri,” jelas pemandu wisata jalan kaki, Fei Aryani, 40, kepada Jabar Ekspres, kemarin.

Baru berjalan sedari tiga tahun yang lalu, Cerita Bandung sempat berhenti juga lantaran pandemi. Lantas kembali berlanjut setelah penerapan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) dan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) berakhir.

“Sudah dari tiga tahun yang lalu, (aku) menjadi tour guide dan storyteller. (Bergabung) dari awal Cerita Bandung berdiri,” imbuh Ci Fei, sapaan akrabnya.

“Apalagi sejak pandemi itu kan, kita masyarakat tidak bisa jalan (wisata) jauh. Ini (walking tour) mungkin solusinya untuk bisa kenal dengan kota sendiri,” tambahnya.

Kegiatan walking tour diisi dengan menjelajahi tiap sisi kota. Termasuk mengupas sejarah yang dimiliki beberapa ikon maupun bangunan yang dijajaki. Di antara banyaknya rute, pada Sabtu (21/5) pagi, Cerita Bandung menjajal rute yang bertajuk ‘Pecinan Discovery’.

Baca Juga:  Hati-Hati Kalau Ke Kamar Mandi, Inilah 5 Hantu yang Bisa Jadi Ada di Kamar Mandi Rumahmu

Rute tersebut dimulai dari arah Jalan ABC, Jalan Banceuy, dan berakhir di Jalan Andir. Pecinan Discovery merupakan napak tilas kawasan yang boleh dikatakan sebagai Chinatown-nya Kota Bandung.

Pada tiap perjalanannya, Ci Fei melakukan sejumlah pemberhentian. Menceritakan perihal banyak hal. Baik itu ikon, bangunan bersejarah, maupun asal-usul jalan. Bila sudah begitu, ia menjadi storyteller di hadapan peserta yang hadir dalam walking tour tersebut.

“Kebanyakan, kan, beberapa orang Bandung sendiri masih tidak tahu asal muasal kotanya. Enggak tahu. Jadi kami mencoba menjelaskan kepada mereka dengan cara yang berbeda. Langsung datang ke tempatnya, kami ceritakan sejarahnya. Jadi mereka juga lebih gampang ingat,” ungkap Ci Fei.

“Seperti misalnya bangunan cagar budaya yang ada plakatnya gitu. Untuk sebagian orang, mereka masih belum pada ‘ngeh’. (Akhirnya) kebanyakan mereka yang sudah ikutan jadi tau,” sambungnya.

Kendati tampak serius, jalannya walking tour inipun sempat membahas soal urban legend atau cerita kontemporer menarik lainnya. Seperti saat menguak asal-usul penamaan Jalan Banceuy. Tak disangka, jalan tersebut, katanya, lahir dari para kusir kuda.

Baca Juga:  Misteri-Misteri Gunung Manglayang yang Masih Menjadi Teka-teki

“Dahulu (wilayah Banceuy) ada Kantor Pos. Surat-surat itu dibawanya pakai kereta delman. Kereta ini biasanya beristirahat jauh dari lokasi pengambilan sumber air,” ucapnya.

Ci Fei menambahkan, di mana air tersebut digunakan para kusir untuk kebutuhan kereta kudanya. Misalnya untuk memandikan sang kuda itu sendiri maupun kereta rodanya.

“Pakai air yang berada di Cikapundung. Lokasi agak jauh. Mereka mengangkut air, kan, berat. Jadi mereka suka teriak ke temannya: ‘Bantuan cai, euy!’ (Bantu air!),” ujarnya.

“Sejak saat itulah tempat (istirahat) ini disebut Jalan Banceuy,” bebernya kepada para peserta walking tour saat berada di sekitar jalan tersebut.

Wisata yang dilakukan dengan jalan kaki ini pun, ungkap Ci Fei, tak selamanya berlangsung tanpa halang rintang yang menghadang. Laksana lagu lama yang berulang, masalah trotoar kurang memadai di beberapa titik Kota Bandung masih menjadi musuh bersama.

“Kalau walking tour itu, kan, jalan kaki. Terkadang trotoarnya enggak bagus. Kayak jembatan penyebarangan orang (JPO)-nya enggak ada. Jadi itu mungkin kesulitan kami untuk jalanin walking tour. Selain trotoar, JPO kurang memadai, banyak sampah juga. Sayang,” sesalnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.