Disparbud Kabupaten Bandung Larang Masyarakat Gelar Perayaan Tahun Baru di Tempat Wisata

SOREANG – Mencegah terjadinya klaster Covid-19, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Bandung melarang masyarakat untuk menggelar pesta perayaan tahun baru di tempat-tempat wisata.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Bandung, Wawan A Ridwan mengungkapkan, kegiatan yang biasa dilakukan di objek wisata yaitu gelaran perayaan tahun baru untuk tahun ini, hiburan tersebut ditiadakan.

Menurutnya, saat natal dan tahun baru (nataru) harus diwaspadai. Pasalnya, pemerintah daerah bersama TNI dan Polri akan semakin ketat dalam mengeluarkan kebijakan sehingga bisa mencegah terjadinya klaster baru Covid-19.

“Dalam rangka menghadapi tahun baru, otomatis tidak diperbolehkan, namun apabila hanya sekedar menginap masih bisa. Objek wisata di Kabupaten Bandung masih tetap berjalan yaitu 75 persen dari kapasitas,” ungkap Wawan saat ditemui di Soreang, Jumat (17/12).

“Mungkin saja akan ada pembatasan seperti penyekatan atau seperti apa, nanti kita tunggu bagaimana koordinasinya,” ujarnya.

Disinggung mengenai objek wisata yang terpaksa gulung tikar karena ada pandemi, menurut Wawan, itu adalah sesuatu hal yang bersifat dinamis. Wawan menuturkan, dalam situasi pandemi Covid-19 ini memang memberikan imbas kepada semua sektor, bukan hanya pariwisata saja.

“Kami mencoba melakukan komunikasi dengan pelaku usaha wisata, PHRI, HPI, rata-rata mereka hanya merumahkan saja. Jadi diberikan pilihan kepada pegawainya apakah mau bekerja dengan gaji minim atau mau bekerja di tempat yang lain. Tapi rata-rata mereka bertahan. Mereka bisa bekerja lagi pada saat kondisi normal kembali. Jadi kebanyakan di rumahkan melihat situasi berkembang yang lebih baik,” tutur Wawan.

Sementara itu, Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), Asep Tantan mengatakan saat tahun 2019 itu semua kegiatan pariwisata ditutup total. Lalu pada tahun 2020, bisa dibuka tapi dengan sejumlah pembatasan. Katanya, selama dua tahun tersebut banyak pelaku usaha objek wisata yang mati suri dan banyak yang beralih profesi.

“Supaya bertahan ya alih profesi, jualan aset, punya saya hampir 50 persen dijual,” kata Asep.

Dikatakan Asep, penutupan pariwisata ini berdampak menyeluruh pada sejumlah sektor, dari mulai objek wisatanya itu sendiri, restoran, hotel dan UMKM juga turut terdampak.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan