Ini Penyebab Banjir Kotoran Sapi yang Terjadi di Lembang

Seorang warga tengah membersihkan jalan dari kotoran sapi yang terbawa arus air hujan di Desa Kayu ambon lembang, beberapa waktu lalu. (Foto: Wisnu/ JabarEkspres)
Seorang warga tengah membersihkan jalan dari kotoran sapi yang terbawa arus air hujan di Desa Kayu ambon lembang, beberapa waktu lalu. (Foto: Wisnu/ JabarEkspres)
0 Komentar

LEMBANG – Pihak Desa Kayuambon, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat menyebut jika banjir kotoran sapi di Kampung Sukahaji, RT 01/01, akibat tersumbatnya saluran air di wilayah hulu.

Hal itu dipastikan setelah pihak pemerintah desa bersama unsur babinsa dan bhabinkamtibmas mendatangi perkampungan yang terdampak serta menelusuri saluran air di kawasan tersebut.

“Ada rumor kalau banjir kotoran sapi itu sengaja dibuang saat hujan, tapi pas kita cek ada gorong-gorong (saluran air) yang tersumbat jadinya meluber saat hujan,” terang Kepala Desa Kayuambon, Ayi Rohayati, Senin (30/8).

Baca Juga:Kapolsek Lembang Imbau Warga Agar Tak Lakukan SweepingPemkab Sumedang Percepatan Relokasi Korban Longsor Cimanggung

Ayi menyebutkan, kotoran sapi itu buangan dari daerah yang di atas Kampung Sukahaji, seperti Bukanagara, Desa Pagerwangi. Saluran pun mengalir ke area jalan dan permukiman. Kondisinya juga sempit sehingga air hujan mudah meluber.

“Di daerah tersebut memang terdapat banyak peternak sapi, sedangkan di desanya pemilik sapi bisa dihitung dengan jari,” terangnya.

Hanya karena saluran air tersebut tertutup ranting dan sampah, akhirnya warga Kayuambon yang terdampak. Namun pada saat kejadian petugas dari KPSBU Lembang dan masyarakat Pagerwangi juga turun membersihkan saluran yang tersumbat.

“Saluran air yang tersumbat sudah dibersihkan, sekarang udah lancar. Supaya gak terulang, sebaiknya saluran air yang masih terbuka itu juga dipasang gorong-gorong,” kata dia.

Diki, 54, salah seorang warga yang pekarangannya terimbas banjir kotoran sapi mengatakan, ketebalan kotoran yang bercampur lumpur itu mencapai sekitar 10 sentimeter dan bau menyengat. Ini adalah kejadian yang ketiga kalinya menyerang permukiman namun sekarang adalah yang paling parah.

“Di sini saja ada sekitar 40 rumah yang kena imbasnya. Penyebabnya dari peternakan sapi di Desa Pagerwangi yang terbawa hujan masuk ke sini,” ucapnya. (mg6)

0 Komentar