Inflasi 0,38% Dipicu Oleh Kenaikan Cabai, Tahu dan Tempe

Inflasi 0,38% Dipicu Oleh Kenaikan Cabai, Tahu dan Tempe
sumber foto : pixabay
0 Komentar

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) memperkirakan inflasi sebesar 0,38 persen secara bulanan pada Januari 2021. Inflasi disumbang oleh kenaikan harga cabai hingga tahu tempe yang terjadi di pasar.

Direktur Eksekutif sekaligus Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono mengatakan, kenaikan harga cabai, terjadi pada jenis cabai rawit 0,09 persen, termasuk juga cabai merah 0,05 persen.

“Sementara, tempe dan tahu masing-masing (naik) sebesar 0,03 persen,” ujar Erwin, kemarin (8/1), dilansir dari fin.co.id, Sabtu (9/1).

Baca Juga:Jenis Vaksin Ini Ampuh Lawan Varian Baru COVID-195 Manfaat Jahe Merah Selain Turunkan Kadar Kolesterol

Kenaikan tahu tempe sempat dikeluhkan pedagangan dan masyarakat. Harga tahu dan tempe naik sekitar 25 persen dari Rp4.000 menjadi Rp5.000. Ini disebabkan kenaikan harga kedelai di tingkat global.

Selain itu, juga kenaikan harga cabai yang sempat tembus hingga Rp100 ribu per kilogram (kg). Kenaikan juga terjadi pada emas perhiasan dan tarif angkutan antarkota masing-masing sebesar 0,02 persen.

Selanjutnya, harga ikan kembung, daging ayam, udang basah, ikan tongkol, dan nasi dengan lauk juga naik sekitar 0,01 persen.

Sementara itu, penurunan harga terjadi di komoditas telur ayam ras sebesar 0,03 persen. Penurunan harga atau deflasi juga terjadi pada bawang merah yang turun 0,02 persen.

Dari perkembangan inflasi bulanan, Bank Indonesia memperkirakan inflasi Januari 2021 secara tahun kalender sebesar 0,38 persen. Sedangkan, inflasi secara tahunan sebesar 1,68 persen.

Secara terpisah, Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro memprediksi inflasi di tahun 2021 akan kembali ke target sasaran inflasi.

“Perekonomian yang membaik dan permintaan yang meningkat, kami memperkirakan inflasi di tahun 2021 akan meningkat ke 2,92 persen yoy,” ujar Andry.

Baca Juga:Kuasa Hukum Habib Rizieq Optimis Memenangi Sidang Gugatan Praperadilan, Namun…Alasan Penyidik Tidak Melakukan Penahanan Terhadap Gisel

Lanjut Andry, dampak semakin tingginya inflasi di tahun ini akan memperbesar defisit transaksi berjalan atau Current Accound Deficit (CAD) di tahun 2021.

Bahkan, dengan meningkatnya inflasi dan meningkatnya aktivitas ekonomi, bisa mengurangi ruang untuk kebijakan pemotongaa suku bunga acuan BI.

Untuk itu, Andry melihat kalau BI nampaknya akan menahan suku bunga acuan di level 3,75 persen pada tahun ini dan kebijakan lainnya akan disesuaikan dengan program pemulihan ekonomi nasional.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Desember 2020 kemarin sebesar 0,45 persen. Inflasi setahun penuh mencapai 1,68 persen pada 2020. (Fin.co.id)

0 Komentar