Sastra Teknologi dan “Generasi Galau”

Sastra Teknologi dan “Generasi Galau”
0 Komentar

Oleh Ismail Kusmayadi 

Tidak berlebihan kiranya jika saya mengatakan bahwa generasi yang lahir sekarang adalah generasi galau. Betapa tidak, mereka begitu cemas dan gagap menjalani kehidupan. Ungkapan-ungkapan kegalauan, kecemasan, hiruk-pikuk pikiran, dan segala keputusasaan tergambar jelas dalam berbagai media sosial yang berkembang saat ini. Inikah yang dimaksud dengan masyarakat modern?

Di era globalisasi saat ini, teknologi tinggi (hi-tech) mewarnai sekaligus memengaruhi pola hidup dan cara berpikir masyarakat, khususnya generasi muda. Cara berbahasa pun mengalami bentuk konvensi baru seiring makin berkembangnya teknologi tersebut. Terkadang kata sebagai alat ucap pikiran dan perasaan sudah tidak lagi menunjukkan keluhuran etika dan norma. Di sisi lain, bahasa yang keinggris-inggrisan makin digandrungi dan mewarnai cara berkomunikasi masyarakat. Perlu upaya keras untuk mengindonesiakan kembali konvensi bahasa yang sudah berkembang sehingga bercita rasa Indonesia. Apakah karya sastra yang muncul mampu menangkap fenomena ini dan menyadarkan mereka? Ataukah karya sastra yang lahir justru terbawa arus kehidupan mereka yang galau, sehingga melahirkan “sastra alay”?

Pemujaan terhadap produk canggih, sebetulnya telah menggiring kita pada situasi gamang, bingung, dan hampa. Secara perlahan kehidupan agama dijauhkan agar tidak mengusik keasyikan kita menikmati teknologi. Tanpa disadari, kita telah diseret ke dalam wilayah yang gelap. John Naisbitt menyebutnya sebagai “zona mabuk teknologi”.

Baca Juga:Pengobatan Asma Hingga Sembuh, Apep Bersyukur Jadi Peserta JKN-KISBagi Messi, Guardiola dan Enrique Tetap Pelatih Terbaik

Lebih lanjut Naisbitt (2001) memaparkan bahwa janji teknologi ibarat bujukan sang dewi penggoda yang terdengar begitu manis dan merdu, sehingga kita tidak mampu menolaknya. Setiap hari, tanpa henti, kita dikelilingi oleh janji teknologi, yang disampaikan melalui iklan kemasan, juga melalui bujukan para wiraniaga, mitra-kerja, dan teman. Dan sebagai masyarakat yang didera stres dan dikejar waktu, kita memohon agar bisa mendapat solusi yang lebih baik. Kita menelan program langkah-demi-langkah secepat program itu dikeluarkan dan berpaling ke teknologi untuk memperoleh jawaban: dari lebih baik ke lebih cerdas, dari yang baru ke revolusioner, dari yang cepat ke seketika, dari keselamatan ke keamanan, dari yang mudah ke tanpa upaya, dari yang bersih ke steril, dari kekuatan ke kinerja. Akan tetapi, seperti nyanyian sang dewi penggoda, suara teknologi bisa memperdaya. Suara itu membujuk, lalu menjerat.

0 Komentar