Bahwa ternyata teknologi tidak bisa menjamin kebahagiaan hidup secara penuh, karena di sisi lain kita pun harus tetap mempertahankan eksistensi sebagai manusia yang bermartabat. Di sini kita dapat belajar menyadari dampak teknologi terhadap kehidupan sehari-hari kita, keberagamaan kita, kesenian dan kemanusiawian kita.
Karya sastra tumbuh dan berkembang karena keberadaan (eksistensi) manusia. Anggapan ini lahir karena kita menyadari bahwa sastra merupakan bagian dari kehidupan. Tentang hal ini, Teeuw (1982) menyatakan bahwa sastra adalah gejala universal yang terdapat pada setiap masyarakat manusia. Karya sastra juga menjadi media subjektif yang mencoba mengangkat persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat. Oleh karena itu, antara sastra dan masyarakat terjadi hubungan yang saling mempengaruhi.
Sangat wajar jika kemudian karya sastra yang muncul mengikuti zaman yang berkembang begitu pesat, termasuk dalam penggunaan bahasa sebagai medianya. Namun, perkembangan bahasa itu sejatinya tidak akan mengubah esensi sastra sebagai katarsis atau penyedia ruang sunyi bagi manusia untuk merenung. Kita bisa lihat fenomena karya sastra yang muncul saat ini tetap membawa tema-tema kesejatian, ketuhanan, ketangguhan, dan kemanusiaan untuk menyadarkan manusia akan makna kehidupan.
Baca Juga:Pengobatan Asma Hingga Sembuh, Apep Bersyukur Jadi Peserta JKN-KISBagi Messi, Guardiola dan Enrique Tetap Pelatih Terbaik
Dengan demikian, sastra tetap bisa dijadikan alat terapi psikologis bagi generasi yang tengah diterpa kegalauan sebagai akibat pengaruh kemajuan teknologi. Sebab, kekosongan jiwa ternyata tidak bisa dipenuhi oleh perangkat teknologi dan kehidupan yang hingar bingar, penuh suara “bip-bip”, deringan, dan kilatan cahaya.
Kesejatian Sastra
Karya sastra sebagai salah satu karya budaya merupakan tanggapan (respons) sastrawan terhadap lingkungannya yang diwujudkan secara estetis dan memiliki nilai keindahan. Oleh karena itu, kelahiran karya sastra selalu memiliki nilai guna bagi masyarakat. Kandungan nilai suatu karya sastra merupakan unsur yang esensial dari karya itu secara keseluruhan. Telaah yang mendalam terhadap suatu karya sastra, bukan saja akan memberi pengertian tentang latar belakang budaya pengarangnya melainkan juga mengungkapkan ide-ide dan gagasan sastrawannya dalam menanggapi situasi yang ada di sekelilingnya.
Kesenyapan menyuburkan pikiran, perenungan mengembangkan kebijaksanaan, mendengarkan menghasilkan kemanusiaan. Manakala tak ada kesenyapan, tak akan ada ruang untuk berpikir. Di situlah peran sastra sebagai penyedia ruang senyap agar kita senantiasa berpikir di tengah hiruk-pikuk kehidupan.***
