Warga Bersihkan Situ Cangkuang

Warga Bersihkan Situ Cangkuang
Gotong-royong: Para warga yang tinggal di kawasan Situ Cangkuang dan Candi Cangkuang saat melakukan pembersihan agar wisatawan nyaman dan betah.
0 Komentar

GARUT – Situ Cangkuang yang saat ini terlihat debit airnya menurun, bahkan sebagian terlihat tercemar dengan banyaknya sampah atau enceng gondok. Melihat kondisi tersebut para warga akhirnya memutuskan untuk membersihkan Situ Cangkuang yang didalamnya juga terdapat sebuah candi.

Menurut Jajang salah satu warga yang ikut berpartisipasi mengatakan bahwa Situ Cangkuang dan juga Candi Cangkuang terlihat tak pernah sepi dari para pengunjung baik wisatawan lokal maupun dari luar kota. Sehingga terlihat antusias wisatawan yang lumayan ramai apalagi ketika menginjak hari libur atau weekend seperti hari Sabtu dan Minggu.

Melihat perkembangan yang jarang sepi pengunjung, maka para warga sekitar bertekad gotong royong untuk membersihkan area sekitar Situ Cangkuang agar tetap bersih dan menawan.

Baca Juga:Seni Budaya Dipadukan dengan Geopark Ciletuh-PalabuhanratuTembok Bangu­nan Pasar Pelita Kota Sukabumi Roboh, Akibat Angin?

Sehingga wisatawan akan nyaman dan diharapkan kedepannya berkunjung kembali suatu saat.

“Walaupun saat ini pandemi covid-19 belum reda, tetapi wisatawan terlihat banyak. Pihak pengelola juga telah menerapkan protokol kesehatan. Baik dari alat pengukur suhu badan, handsanitizer, sehingga sebelum masuk ke area situ wisatawan wajib dilakukan pemeriksan suhu tubuh dan juga harus memakai masker,” ujarnya.

Sementara itu Menurut Ferdiansyah, bahwa Gerakan BISA (Bersih, Indah Sehat, Aman) dikawasan Situ Cangkuang dan Candi Cangkuang selama dua hari yaitu Sabtu dan Minggu (29-30/8) tentunya diharapkan kawasan wisata ini bisa menambah daya tarik bagi para wisatawan. Apalagi kunjungannya masih diatas 500 jadi ini suatu hal yang cukup menggembirakan.

“Tapi kita minta pengelola Candi Cangkuang ini untuk mengimbau terus mengingatkan soal protokol kesehatan, apalagi saat ini perlu melakukan transisi tatanan kehidupan baru atau AKB (Adaptasi Kebiasaan Baru) dalam dunia kepariwisataan. Bahwa kegiatan pariwisata tidak boleh berhenti tapi kita tidak boleh sombong harus mengikuti protokol kesehatan dan berdoa,” jelasnya saat ditemui disela-sela kegiatan, Minggu (30/8)

Lanjut Ferdi, selama ini di Garut banyak sekali industri pariwisata mulai dari objek wisata, perhotelan, restoran, usaha kelontong, pengusaha kuliner, serta yang lainnya. Penghentian kegiatan pariwisata tentu akan sangat berdampak luas bagi berbagai sektor yang ujung-ujungnya berdampak terhadap perekonomian.

0 Komentar