Widyatama sudah Terapkan Kampus Merdeka

Widyatama sudah Terapkan Kampus Merdeka
JALIN KERJASAMA: Rektor Universitas Widyatama Prof Obsatar Sinaga, foto bersama dengan pengurus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) saat kuliah umum di Kampus Widyatama, Kamis (5/3).
0 Komentar

BANDUNG – Kampus Universitas Widyatama memiliki moto friendly campus for business pro menjalin kerjasama dengan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Kampus tersebut kerap kali mengadakan kolaborasi dengan berbagai industri.

Menurut Rektor Widyatama Prof Obsatar Sinaga,  kerja sama tersebut dilakukan untuk membantu mahasiswa yang sudah terjun ke dunia wirausaha.

“Jadi sejak masuk kelas di kampus ini mahasiswa sudah mencintai dunia usaha dan bahkan sudah ada yang sukses. Seperti usaha cuci sepatu, tas, hidroponik, ada juga usaha nasi bakar, dan lain-lain. Jadi ini HIPMI salah satu yang kita gandeng untuk membantu mahasiswa terutama dalam penanganan persoalan modal,” ujarnya saat dijumpai Jabar Ekspres di kampus Widyatama, Kamis (5/3).

Baca Juga:Langkah Antisipasi Covid-19, Empat PT Keluarkan Surat EdaranKontra Singo Edan, Pelatih Robert Matangkan Ragam Taktik

Dia juga menyebutkan feed back yang akan diberikan kepada HIPMI selama melalukan kerjasama dengan Widyatama. Seperti memberikan beragam peluang.

“Contohnya ketua hipmi butuh sekolah, nanti kita akan bantu untuk bisa lanjutkan di sini. Kedua kita punya program business planning yang akan kita kaitkan dengan hipmi,” ungkapnya.

Di sela-sela wawancara, Obsatar juga sempat mengemukakan pendapatnya mengenai kebijakan Kampus Merdeka yang dicetuskan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim.

“Kampus merdeka itu ‘kan mereka melakukan kolaborasi dengan industri di luar bentuknya magang dan lain-lain. Kita udah jalan, udah lama. Dengan 48 industri. Malah mereka yang pernah menerima magang di kita, setiap tahun minta delapan orang untuk bekerja tanpa tes,” ujar Obsatar.

Lebih lanjut ia berpendapat mengenai kebijakan Mendikbud yang masih perlu diperbaiki. Isi dari kebijakan tersebut masih berbenturan dengan peraturan yang ada sebelumnya. Misalnya mengenai UU tentang akreditasi.

Kendati demikan, Obsatar juga beranggapan bahwa kebijakan tersebut tidak bermasalah. Terutama mengenai kebijakan mahasiswa yang bisa menempuh prodi lain.

“Tida ada masalah, apalagi jika pertukarannya masih di dalam satu universitas mudah sekali. Yg kedua kalau saat ini kan sudah 57 univ bikin mou dengan widyatama mengenai publikasi internasional. Dan yg 57 itu semuanya mau kalau diajak tukeran kuliah di kampus mereka dan kampus kita,” tandasnya. (mg7/tur)

0 Komentar